Saparua - Klasis GPM Buru Selatan mendorong penguatan pola pelayanan melalui pertukaran pengalaman dan sumber daya lintas klasis. Langkah ini dinilai penting untuk menjawab perbedaan konteks pelayanan gereja, khususnya antara wilayah kontinental Buru Selatan dan karakter pelayanan laut-pulau di Kepulauan Lease.
Gagasan tersebut disampaikan Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pendeta Wendhel F. Lesbassa, saat membuka Rapat Konsultasi Semester I Klasis GPM Buru Selatan di Klasis GPM Pulau-Pulau Lease, Saparua, Jumat (7/8/2026).
Turut hadir dalam agenda tersebut Ketua Klasis GPM Pulau-Pulau Lease, Pdt. Jhon Malle, Sekretaris Klasis GPM Pulau-Pulau Lease, Pdt. Roy Mail, Sekretaris Klasis GPM Buru Selatan Pdt. S. M. Redjo, Ketua Daerah AMGPM Buru Selatan, Erens Jani Tasidjawa, serta Ketua Daerah AMGPM Pulau-Pulau Lease Jenly Latuihamallo.
Dalam arahannya Lesbassa mengatakan, pelaksanaan rapat konsultasi di Klasis GPM Pulau-Pulau Lease merupakan bagian dari upaya memperkuat semangat kebersamaan, saling belajar dan berbagi sumber daya antarjemaat maupun antarklasis dalam menjalankan pelayanan GPM.
Menurutnya, kedua wilayah memiliki tantangan pelayanan masing-masing. Buru Selatan berada dalam konteks kontinental dengan karakter gunung, lembah dan sungai. Dalam praktiknya, pelayanan juga dihadapkan pada perjalanan laut, cuaca dan ombak. Sementara Pulau-Pulau Lease berada dalam konteks laut-pulau dengan dinamika geografis serta karakter sosial masyarakat yang khas.
Perbedaan konteks tersebut, kata Lesbassa, harus menjadi ruang pembelajaran bersama. Pelayanan GPM tidak cukup hanya dipahami dari pengalaman masing-masing wilayah, tetapi perlu diperkuat melalui pertukaran pengalaman antarkonteks pelayanan.
“Dalam semangat ini kita saling belajar, kita akan terus dimampukan untuk berkarya dan melayani di Gereja Protestan Maluku,” ujar Mantan Ketua Klasis Buru Utara.
Ia menegaskan, semangat tersebut sejalan dengan upaya menjalankan prakarsa desentralisasi untuk menjawab pergumulan bersama sebagai gereja. Karena itu, pengalaman pelayanan di wilayah lain perlu dilihat sebagai sumber pembelajaran dalam menyusun pola dan perencanaan pelayanan GPM.
Lesbassa juga menyinggung sejarah panjang Klasis GPM Pulau-pulau Lease yang pada 2026 memasuki persidangan ke-98. Usia tersebut bahkan lebih tua dibandingkan GPM yang pada tahun yang sama memasuki usia ke-91.
Pilihan Klasis GPM Buru Selatan menggelar Rapat Konsultasi di Lease juga dilatarbelakangi semangat untuk saling belajar dan berbagi pengalaman.
Pertukaran pengalaman dengan klasis yang memiliki sejarah panjang dinilai dapat memperkaya pemahaman dan praktik pelayanan.
“Kita datang bukan untuk saling menggurui tetapi saling belajar dan berbagi pengalaman dalam memperkuat komitmen sebagai pelayan GPM,”tutur mantan Ketua Daerah AMGPM Buru Utara.
Rapat Konsultasi Klasis sendiri merupakan bagian dari amanat Peraturan Pokok GPM tentang Klasis, terutama dalam menjabarkan keputusan-keputusan sinodal dan klasis ke dalam pelaksanaan pelayanan di tingkat klasis dan jemaat.
Dalam kesempatan tersebut, Lesbassa menyampaikan apresiasi kepada MPK Klasis GPM Pulau-Pulau Lease dan jemaat-jemaat yang menjadi tuan rumah atas pelayanan selama rombongan Klasis GPM Buru Selatan berada di Saparua.
Ia menyebut, terdapat 27 jemaat dalam Klasis GPM Pulau-pulau Lease, dengan 15 jemaat berada di Pulau Saparua. Selama berada di wilayah tersebut, rombongan Klasis GPM Buru Selatan juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke sejumlah lokasi wisata, termasuk Bentemg Duurstede dan salah satu sentra produksi sempe tradisional serta melaksanakan pergumulan bersama di Gereja Zebaoth, Jemaat GPM Saparua-Tiouw.
Lesbassa meminta seluruh anggota MPK dan para Ketua Majelis Jemaat Klasis GPM Buru Selatan mengikuti rapat konsultasi secara serius, terutama dalam merumuskan langkah pelayanan yang dapat menjawab pergumulan bersama.
Rapat Konsultasi Semester I Klasis GPM Buru Selatan kemudian dibuka dengan penegasan kembali komitmen pelayanan berdasarkan moto GPM Buru Selatan, Aku Menanam Apolos Menyiram, Tetapi Allah Yang Memberi Pertumbuhan "Yako Seka, Apolos Tofa, Opolastala Ya Huke Enewet."
(Tim Redaksi)
Tidak ada komentar: