Jesus

Chat Kami

Featured Post

Dari Gereja ke Polres, AMGPM Bursel Bawa Suara Moral: “Masih Adakah Keadilan di Negeri Ini?”

NAMROLE  - Langkah kaki kader Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) dari Gereja Immanuel Waenono menuju Mapolres Buru Selatan, Jumat...

All Info AMGPM

Berita Daerah AMGPM

Baca Juga

Syalom...

Berita Cabang AMGPM

Berita Ranting AMGPM


NAMROLE
 - Langkah kaki kader Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) dari Gereja Immanuel Waenono menuju Mapolres Buru Selatan, Jumat (25/9/2026), bukan sekadar sebuah long march.

Di balik langkah tersebut, tersimpan kegelisahan sekaligus harapan. Kegelisahan atas berbagai persoalan kemanusiaan dan konflik sosial yang terjadi di Maluku, serta harapan agar keadilan, kepastian hukum dan perdamaian benar-benar hadir bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Dengan membawa pesan “Masih Adakah Keadilan di Negeri Ini?”, AMGPM Daerah Buru Selatan mendatangi Mapolres Buru Selatan di Desa Elfule, Kecamatan Namrole, untuk menyampaikan aspirasi sekaligus menyerahkan Titah AMGPM kepada jajaran kepolisian.

Aksi damai tersebut diikuti Pengurus Daerah AMGPM Buru Selatan, Korwil AMGPM Daerah Buru Selatan Sami Latbual, Sekbid V Pengurus Besar AMGPM Dominggus Seleky, jajaran Pengurus Cabang, Ketua dan Pengurus Ranting serta kader AMGPM dari wilayah Kota Namrole.

Mereka berjalan kaki dari Gereja Immanuel Waenono, Desa Kamlanglale, menuju Mapolres Buru Selatan. Setibanya di Mapolres, Ketua Daerah AMGPM Buru Selatan Erens J. Tasidjawa menyerahkan langsung Titah AMGPM kepada Wakapolres Buru Selatan Kompol Missionary Misfenery Nanuru.

Aksi ini merupakan tindak lanjut instruksi Pengurus Besar AMGPM serta Surat Pengurus Daerah AMGPM Buru Selatan Nomor 49/VII/PD.6/2026 tertanggal 23 September 2026 tentang Seruan dan Konsolidasi Aksi Damai.

Bukan Sekadar Turun ke Jalan

AMGPM menegaskan, aksi tersebut tidak lahir dari keinginan untuk memperkeruh keadaan. Sebaliknya, kehadiran kader AMGPM di ruang publik merupakan bentuk solidaritas kemanusiaan sekaligus tanggung jawab moral generasi muda gereja.

Berbagai peristiwa kekerasan, konflik sosial, pembakaran pemukiman warga hingga pembakaran Pastori Jemaat GPM Patahue menjadi bagian dari kegelisahan yang mendorong AMGPM menyuarakan kembali pentingnya keadilan dan perlindungan terhadap martabat manusia.

Dalam Titah AMGPM disebutkan, sepanjang sejarahnya, organisasi kepemudaan gereja tersebut hampir tidak pernah memilih jalan turun ke jalan untuk menyampaikan suara dan kegelisahannya.

Sebab, AMGPM selama ini menaruh kepercayaan kepada aparatur penegak hukum untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi.

Namun, rangkaian konflik yang terus berujung pada kekerasan, pembakaran dan pengusiran warga dari tanah kelahirannya membuat kepercayaan tersebut kembali dipertanyakan.

Dari situlah pertanyaan “Masih Adakah Keadilan di Negeri Ini?” disuarakan.

Pertanyaan tersebut bukan semata-mata ditujukan kepada satu institusi, melainkan menjadi refleksi bersama terhadap bagaimana hukum, keadilan dan martabat manusia harus ditempatkan dalam penyelesaian konflik di Maluku.

AMGPM Titip Pesan kepada Penegak Hukum

Melalui Titah yang disampaikan secara serentak di berbagai daerah, AMGPM meminta aparat penegak hukum mengusut secara tuntas berbagai kasus konflik yang terjadi.

AMGPM menyerukan agar aktor intelektual maupun pelaku pembakaran dan kekerasan diproses sesuai hukum dan diperlakukan berdasarkan perbuatannya masing-masing.

Penegakan hukum, menurut AMGPM, harus dilakukan dengan menjaga integritas aparat dan tidak tunduk pada tekanan dari kelompok maupun pihak manapun.

Bagi AMGPM, keadilan tidak cukup hanya terlihat dalam proses hukum, tetapi juga harus mampu menghadirkan rasa aman bagi masyarakat.

Karena itu, AMGPM turut meminta agar masyarakat yang terpaksa meninggalkan kampung halaman akibat konflik dapat memperoleh kepastian untuk kembali ke tanah kelahirannya dengan aman dan tanpa rasa takut.

Rumah, tanah kelahiran dan ruang hidup masyarakat harus kembali menjadi tempat yang memberikan rasa nyaman, bukan sumber ketakutan.

AMGPM juga meminta agar penegakan hukum tidak dilakukan secara diskriminatif serta langkah-langkah pencegahan konflik diperkuat sehingga peristiwa serupa tidak kembali terjadi.

“Kami Datang untuk Mengingatkan”

Menerima Titah tersebut, Wakapolres Buru Selatan Kompol Missionary Misfenery Nanuru menyampaikan apresiasi kepada AMGPM yang memilih menyampaikan aspirasi melalui aksi damai.

Ia mengatakan, berbagai persoalan yang menjadi perhatian masyarakat telah menjadi bagian dari penanganan aparat penegak hukum sesuai kewenangan masing-masing.

“Kami sangat berterima kasih kepada bapak dan ibu semua yang sudah datang menyampaikan aspirasi. Apa yang disampaikan ini kami terima dan akan menjadi perhatian untuk ditindaklanjuti ke depan,” ujar Nanuru.

Ia meminta seluruh kader AMGPM tetap bersabar dan bersama-sama menjaga keamanan di Buru Selatan.

Menurutnya, menjaga keamanan bukan hanya menjadi tugas kepolisian, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda gereja.

“Melalui Angkatan Muda, mari kita memberikan solusi dan sosialisasi kepada masyarakat. Kita semua harus tetap hidup aman dan ramah,” katanya.

Nanuru juga mengingatkan bahwa perdamaian membutuhkan keterlibatan semua pihak.

“Damai itu mahal. Karena itu, kita harus saling mengingatkan dan saling membantu melalui aksi-aksi nyata yang kita lakukan,” ujarnya.

Ia berharap kader AMGPM dapat menjadi bagian dari upaya menjaga situasi Buru Selatan agar tetap aman, sekaligus membantu membangun komunikasi yang baik di tengah masyarakat.

Pesan Terakhir: Jangan Terprovokasi

Di tengah lantangnya tuntutan keadilan, AMGPM juga menyampaikan pesan yang tidak kalah penting: jangan membalas kegelisahan dengan provokasi.

Dalam Titahnya, seluruh kader AMGPM diingatkan agar tidak terpancing oleh pernyataan, sindiran maupun berbagai bentuk provokasi, baik secara langsung maupun melalui media sosial.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa aksi damai AMGPM bukan gerakan untuk menciptakan konflik baru, melainkan upaya menyuarakan penyelesaian konflik melalui jalur hukum dan perdamaian.

“Amanatmu telah kami tunaikan. Yakinlah bahwa Titah ini akan dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan tuntas oleh para pemimpin di negeri ini, khususnya penegak hukum,” demikian pesan AMGPM dalam Titahnya.

Bagi AMGPM, keberanian tidak harus diwujudkan melalui kemarahan. Keberanian juga dapat berarti berdiri menyuarakan kebenaran, meminta keadilan, menjaga martabat manusia dan pada saat yang sama menolak provokasi.

Dari halaman Gereja Immanuel Waenono hingga Mapolres Buru Selatan, langkah kader AMGPM membawa satu pesan yang sama: keadilan harus menjadi jalan menuju perdamaian, dan perdamaian harus dijaga bersama.

Karena itu, AMGPM berharap aksi tersebut cukup menjadi sebuah pengingat.

Pengingat bagi pemimpin.

Pengingat bagi aparat penegak hukum.

Dan pengingat bagi seluruh masyarakat bahwa di tengah berbagai persoalan yang terjadi, Maluku tetap membutuhkan suara-suara yang memilih keadilan, kemanusiaan dan perdamaian. (MC) 

Buru Selatan - Perjalanan pembangunan Pastori 2 menjadi bagian dari dinamika pelayanan Jemaat GPM Waemulang yang melibatkan umat dan berbagai pihak. Setelah melalui proses pembangunan sejak 28 Desember 2016 dan kembali digerakkan secara lebih intensif sejak 2023, Pastori 2 Jemaat GPM Waemulang, Klasis GPM Buru Selatan, akhirnya ditahbiskan dan diresmikan oleh Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pdt. Wendhel F. Lesbassa, M.Si., Kamis, 24 September 2026.


Prosesi pentahbisan dan peresmian tersebut disaksikan Bupati Buru Selatan, La Hamidi, SH. Ibadah pentahbisan dan peresmian dilayani Pdt. Ny. Adel Papasoka/W, Ketua Majelis Jemaat GPM Grahwaen. Kegiatan tersebut dihadiri Camat Leksula, sejumlah pimpinan OPD Kabupaten Buru Selatan, para pendeta, umat Jemaat GPM Waemulang serta panitia pembangunan.


Pembangunan Pastori 2 berlangsung melalui keterlibatan warga jemaat dan dukungan berbagai pihak. Ketua Panitia Pembangunan Pastori 2, Yosephus Nustelu, menjelaskan bahwa pekerjaan pembangunan telah dimulai pada 28 Desember 2016 dan kembali digerakkan secara lebih intensif sejak 2023.


Dukungan warga Waemulang menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Dukungan juga datang dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Buru Selatan, sehingga pembangunan dapat diselesaikan hingga tahap pentahbisan dan peresmian.


"Berkat topangan anak negeri Waemulang dan semua pihak termasuk Pemerintah Kabupaten Buru Selatan maka Pastori 2 ini bisa diresmikan hari ini,"kata Yosephus.


Atas dukungan tersebut, Yosephus menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat sejak pembangunan dimulai hingga pelaksanaan pentahbisan dan peresmian.

*Pastori dalam Kehidupan Gereja*

Bagi Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pdt. Wendhel F. Lesbassa, M.Si., keberadaan pastori berkaitan langsung dengan kehidupan pelayanan gereja. Pastori merupakan barang milik gereja yang digunakan sebagai tempat tinggal pendeta bersama keluarganya sekaligus ruang menjalani tanggung jawab pelayanan di tengah jemaat.


"Di jemaat, pastori jemaat adalah tempat tinggal dan tempat bergumul seorang pendeta dalam jabatan sebagai Ketua Majelis atau Pdt Jemaat bersama rumah tangganya,"jelas Lesbassa.


Fungsi tersebut menempatkan pastori sebagai bagian dari kehidupan pastoral. Di dalamnya berlangsung kehidupan keluarga pendeta sekaligus berbagai pergumulan pelayanan yang berkaitan dengan kehidupan jemaat.


Pemahaman tentang fungsi pastori tersebut berkaitan dengan proses pembangunan Pastori 2. Warga Jemaat GPM Waemulang turut mengambil bagian dalam pekerjaan pembangunan, termasuk mereka yang memiliki keterampilan sebagai tukang.


Bagi Lesbassa, keterlibatan umat menunjukkan adanya prakarsa dan tanggung jawab bersama dalam kehidupan gereja.


"Pembangunan Pastori jemaat adalah bukti prakarsa umat dan pelayan di jemaat, bukti dari pergumulan umat dan pelayan di jemaat, bukti dari swadaya jemaat tanpa pamrih, bukti dari kesetiaan dan kecintaan kepada pelayanan gereja," ujarnya.


Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan jemaat dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki warga. Keterampilan, tenaga dan kepedulian umat menjadi bagian dari proses penyediaan fasilitas pelayanan gereja.

*Kerja Bersama dalam Pembangunan*

Proses pembangunan Pastori 2 juga memperlihatkan keterlibatan berbagai pihak. Jemaat bekerja bersama masyarakat dan pihak lain yang memberikan dukungan selama pembangunan berlangsung.


Lesbassa menjelaskan bahwa pengalaman tersebut menunjukkan pola kerja gereja yang bertumpu pada kebersamaan.


"Kita tidak bekerja sendiri. Tetapi kita bekerja bersama-sama, bekerja bersama sesama dan bekerja bersama Opolastala,"katanya.


Dukungan yang hadir selama pembangunan, menurut Lesbassa, merupakan bagian dari cara kerja Opolastala yang menggerakkan kepedulian orang-orang untuk membantu dan memberikan kemudahan dalam proses pembangunan.


"Cara kerja Opolastala itu semakin meyakinkan kita bahwa Tuhan itu baik. Ia baik kepada manusia dan seluruh ciptaan. Ia baik kepada Jemaat GPM Waemulang, Ia baik kepada gereja yang adalah milik kepunyaan-Nya," tutur Lesbassa.


Pengalaman pembangunan tersebut memperlihatkan hubungan antara partisipasi umat, dukungan berbagai pihak dan kehidupan pelayanan gereja. Proses penyediaan fasilitas pelayanan berlangsung melalui keterlibatan banyak unsur dengan peran masing-masing.


*Pastori sebagai Ruang Pelayanan*


Setelah ditahbiskan dan diresmikan, Pastori 2 digunakan untuk mendukung kehidupan pelayanan Jemaat GPM Waemulang. Bagi Lesbassa, fungsi tersebut perlu ditempatkan dalam kerangka pelayanan yang terbuka terhadap umat dan masyarakat.


Pastori menjadi ruang perjumpaan antara pendeta, umat dan masyarakat. Karena itu, kehidupan di dalamnya berkaitan dengan kesediaan untuk menerima, berbagi dan membangun komunikasi.


"Pastori adalah rumah (Huma) dimana segala egoisme harus ditinggalkan, digantikan dengan kesediaan berbagi, menerima, menyambut dan berdialog dengan siapapun yang datang," ujarnya.


Dalam konteks pelayanan, seorang pendeta perlu membuka ruang dialog dengan umat, memberikan bimbingan dan mendengarkan berbagai masukan. Pastori menjadi salah satu ruang yang mendukung proses tersebut.


*Pemerintah Apresiasi Keterlibatan Warga*


Bupati Buru Selatan, La Hamidi, SH., memberikan apresiasi terhadap warga Jemaat GPM Waemulang dan masyarakat Waemulang yang terlibat dalam pembangunan Pastori 2.


"Kami memberikan apresiasi kepada warga Jemaat dan masyarakat Waemulang yang secara sungguh-sungguh bekerja untuk mempersiapkan Pastori bagi hamba Tuhan yang melayani di sini," kata La Hamidi.


Dalam sambutannya, Bupati juga memberikan apresiasi terhadap perhatian anak-anak negeri Waemulang terhadap pembangunan jemaat. Ia menyebut adanya dinamika dan perbedaan pendapat selama proses pembangunan sebagai bagian dari perjalanan pekerjaan.


La Hamidi berharap Pastori 2 dapat memberikan kenyamanan bagi hamba Tuhan dalam menjalankan tugas pelayanan dan pembinaan iman umat.


Ia juga menempatkan pembangunan mental dan spiritual sebagai bagian dari pembangunan masyarakat yang perlu berjalan bersama pembangunan fisik.


"Selain pembangunan fisik, pembangunan mental dan spiritual umat juga penting dilakukan," ujarnya.


*Menjadi Bagian dari Pelayanan Jemaat*


Rangkaian pentahbisan dan peresmian Pastori 2 ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pdt. Wendhel F. Lesbassa, M.Si., dan Bupati Buru Selatan, La Hamidi, SH. Pengguntingan pita dilakukan oleh Ny. Oke Lesbassa/Saija.


Selain menjadi sarana pelayanan, Pastori 2 menjadi bagian dari kehidupan jemaat yang mempertemukan tugas pastoral, kehidupan umat dan semangat kebersamaan dalam membangun gereja.


"Bersukacitalah dan bersyukurlah, karena Opolastala da puna Gosat la kita hansiak." (W.L)

NAMROLE - Menyongsong Hari Ulang Tahun ke-91 Gereja Protestan Maluku (GPM), Jemaat GPM Waenono-Kamlanglale, Klasis Buru Selatan, menggelar pembukaan rangkaian berbagai perlombaan, Jumat 28 Agustus 2026 pukul 18.00 Wit.


Pembukaan yang berlangsung di depan Gedung Gereja Imanuel Waenono-Kamlanglale itu berlangsung semarak. Ratusan warga jemaat dari delapan unit pelayanan ambil bagian dalam parade, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.


Semarak pembukaan semakin terasa dengan penampilan yel-yel dari masing-masing unit pelayanan diantaranya Unit Eglinan, Hailalet, Unit Muan Modan, Waemodat, Leasida, Unit Leakeha, Haiopo dan Unit Muhawaen.


Rangkaian kegiatan diakhiri dengan pembakaran obor induk secara bersama oleh Ketua Majelis Jemaat, para pelayan dan warga gereja prfesi. Prosesi ini menjadi semangat kebersamaan serta komitmen untuk terus menjaga nyala api Injil dalam kehidupan persekutuan dan pelayanan jemaat.


Ketua Majelis Jemaat GPM Waenono-Kamlanglale, Pendeta J. Lopulalan/Tasidjawa, mengatakan peringatan HUT ke-91 GPM yang dilaksanakan pada 6 September nanti menjadi kesempatan bagi seluruh warga jemaat untuk kembali mensyukuri penyertaan Tuhan dalam perjalanan Gereja Protestan Maluku.


“Selama 91 tahun, api Injil terus menyala dan membawa kabar sukacita bagi umat Tuhan. Kiranya api Injil itu terus menyala di Jemaat GPM Waenono-Kamlanglale sampai ke seluruh wilayah pelayanan Gereja Protestan Maluku,” katanya.


Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan HUT tidak sekadar menjadi perlombaan, tetapi menjadi ruang mempererat persekutuan dan kebersamaan warga jemaat.


“Kiranya seluruh rangkaian kegiatan yang akan katong jalani bersama beberapa hari kedepan menjadi bagian dari sukacita persekutuan. Mari katong isi HUT ini dengan kebersamaan dan semangat untuk saling menopang sebagai satu tubuh Kristus,” ujarnya.


Sementara itu, Ketua PHBG Jemaat Waenono-Kamlanglale Ronal Latbual, mengatakan rangkaian menyongsong HUT ke-91 GPM akan diisi dengan berbagai perlombaan yang melibatkan seluruh unsur warga jemaat.


Sejumlah agenda yang telah disiapkan diantaranya Baris Indah, Penalty Kick, Lomba Paduan Suara, Solo dan berbagai rangkain lomba lainnya akan ditampilkan. 


Rangkaian perlombaan tersebut melibatkan seluruh unsur jemaat, mulai dari anak-anak SMTPI, pengasuh, wadah-wadah pelayanan hingga Angkatan Muda.


Latbual juga mengajak seluruh warga jemaat untuk berpartisipasi dan menyukseskan setiap agenda yang telah disiapkan hingga puncak perayaan HUT ke-91 GPM.


“Harapannya, seluruh warga jemaat dapat bersama-sama mengikuti dan menyukseskan rangkaian kegiatan ini. Bukan hanya soal menang atau kalah dalam perlombaan, tetapi bagaimana katong membangun kebersamaan, sukacita dan rasa memiliki sebagai satu keluarga besar Jemaat GPM Waenono-Kamlanglale,” ungkapnya.


Rangkaian kegiatan tersebut akan berlanjut hingga Malam 'Kajadiang HUT GPM', yang menjadi puncak perayaan. Agenda itu akan diawali dengan Ibadah Syukur HUT ke-91 GPM dan ditutup dengan Makan Patita bersama seluruh warga jemaat. (MC) 

Saparua - Klasis GPM Buru Selatan mendorong penguatan pola pelayanan melalui pertukaran pengalaman dan sumber daya lintas klasis. Langkah ini dinilai penting untuk menjawab perbedaan konteks pelayanan gereja, khususnya antara wilayah kontinental Buru Selatan dan karakter pelayanan laut-pulau di Kepulauan Lease.

Gagasan tersebut disampaikan Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pendeta Wendhel F. Lesbassa, saat membuka Rapat Konsultasi Semester I Klasis GPM Buru Selatan di Klasis GPM Pulau-Pulau Lease, Saparua, Jumat (7/8/2026).

Turut hadir dalam agenda tersebut Ketua Klasis GPM Pulau-Pulau Lease, Pdt. Jhon Malle, Sekretaris Klasis GPM Pulau-Pulau Lease, Pdt. Roy Mail, Sekretaris Klasis GPM Buru Selatan Pdt. S. M. Redjo, Ketua Daerah AMGPM Buru Selatan, Erens Jani Tasidjawa, serta Ketua Daerah AMGPM Pulau-Pulau Lease Jenly Latuihamallo.

Dalam arahannya Lesbassa mengatakan, pelaksanaan rapat konsultasi di Klasis GPM Pulau-Pulau Lease merupakan bagian dari upaya memperkuat semangat kebersamaan, saling belajar dan berbagi sumber daya antarjemaat maupun antarklasis dalam menjalankan pelayanan GPM.

Menurutnya, kedua wilayah memiliki tantangan pelayanan masing-masing. Buru Selatan berada dalam konteks kontinental dengan karakter gunung, lembah dan sungai. Dalam praktiknya, pelayanan juga dihadapkan pada perjalanan laut, cuaca dan ombak. Sementara Pulau-Pulau Lease berada dalam konteks laut-pulau dengan dinamika geografis serta karakter sosial masyarakat yang khas.

Perbedaan konteks tersebut, kata Lesbassa, harus menjadi ruang pembelajaran bersama. Pelayanan GPM tidak cukup hanya dipahami dari pengalaman masing-masing wilayah, tetapi perlu diperkuat melalui pertukaran pengalaman antarkonteks pelayanan.

“Dalam semangat ini kita saling belajar, kita akan terus dimampukan untuk berkarya dan melayani di Gereja Protestan Maluku,” ujar Mantan Ketua Klasis Buru Utara.

Ia menegaskan, semangat tersebut sejalan dengan upaya menjalankan prakarsa desentralisasi untuk menjawab pergumulan bersama sebagai gereja. Karena itu, pengalaman pelayanan di wilayah lain perlu dilihat sebagai sumber pembelajaran dalam menyusun pola dan perencanaan pelayanan GPM.

Lesbassa juga menyinggung sejarah panjang Klasis GPM Pulau-pulau Lease yang pada 2026 memasuki persidangan ke-98. Usia tersebut bahkan lebih tua dibandingkan GPM yang pada tahun yang sama memasuki usia ke-91.

Pilihan Klasis GPM Buru Selatan menggelar Rapat Konsultasi di Lease juga dilatarbelakangi semangat untuk saling belajar dan berbagi pengalaman.

Pertukaran pengalaman dengan klasis yang memiliki sejarah panjang dinilai dapat memperkaya pemahaman dan praktik pelayanan.

“Kita datang bukan untuk saling menggurui tetapi saling belajar dan berbagi pengalaman dalam memperkuat komitmen sebagai pelayan GPM,”tutur mantan Ketua Daerah AMGPM Buru Utara.

Rapat Konsultasi Klasis sendiri merupakan bagian dari amanat Peraturan Pokok GPM tentang Klasis, terutama dalam menjabarkan keputusan-keputusan sinodal dan klasis ke dalam pelaksanaan pelayanan di tingkat klasis dan jemaat.

Dalam kesempatan tersebut, Lesbassa menyampaikan apresiasi kepada MPK Klasis GPM Pulau-Pulau Lease dan jemaat-jemaat yang menjadi tuan rumah atas pelayanan selama rombongan Klasis GPM Buru Selatan berada di Saparua.

Ia menyebut, terdapat 27 jemaat dalam Klasis GPM Pulau-pulau Lease, dengan 15 jemaat berada di Pulau Saparua. Selama berada di wilayah tersebut, rombongan Klasis GPM Buru Selatan juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke sejumlah lokasi wisata, termasuk Bentemg Duurstede dan salah satu sentra produksi sempe tradisional serta melaksanakan pergumulan bersama di Gereja Zebaoth, Jemaat GPM Saparua-Tiouw.

Lesbassa meminta seluruh anggota MPK dan para Ketua Majelis Jemaat Klasis GPM Buru Selatan mengikuti rapat konsultasi secara serius, terutama dalam merumuskan langkah pelayanan yang dapat menjawab pergumulan bersama.

Rapat Konsultasi Semester I Klasis GPM Buru Selatan kemudian dibuka dengan penegasan kembali komitmen pelayanan berdasarkan moto GPM Buru Selatan, Aku Menanam Apolos Menyiram, Tetapi Allah Yang Memberi Pertumbuhan "Yako Seka, Apolos Tofa, Opolastala Ya Huke Enewet."

(Tim Redaksi) 

Namrole - Pengurus AMGPM Daerah Buru Selatan menggelar Turnamen Penalty Kick selama dua hari, 8-9 Juli 2026, sebagai bagian dari semarak euforia Piala Dunia 2026 yang tengah berlangsung.

Kegiatan yang dipusatkan di depan Gedung Gereja Protestan Maluku (GPM) Imanuel Waenono-Kamlanglale tersebut berlangsung mulai pukul 14.00 WIT hingga selesai dan terbuka untuk umum.

Turnamen ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Lebih dari 200 peserta ambil bagian setelah pendaftaran dibuka selama satu bulan sebelum pelaksanaan kegiatan. Peserta yang ikut tidak hanya berasal dari kalangan orang dewasa, tetapi juga didominasi anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, yang turut meramaikan jalannya pertandingan.

Kehadiran para peserta muda tersebut menjadi warna tersendiri dalam pelaksanaan turnamen, sekaligus menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap olahraga sepak bola. Momentum ini juga menjadi bagian dari semarak Piala Dunia 2026 yang menghadirkan suasana kebersamaan dan kegembiraan di tengah masyarakat.

Ketua AMGPM Daerah Buru Selatan, Erens J. Tasidjawa, saat membuka kegiatan mengatakan, Turnamen Penalty Kick menjadi wadah positif bagi generasi muda dan masyarakat untuk menyalurkan minat serta kecintaan terhadap olahraga sepak bola.

Menurut Tasidjawa, kegiatan tersebut tidak hanya mengejar aspek kompetisi, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kebersamaan, mempererat persaudaraan, serta menanamkan nilai sportivitas kepada seluruh peserta.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap seluruh peserta dapat menjunjung tinggi semangat fair play, menjaga persaudaraan, dan menjadikan olahraga sebagai sarana memperkuat kebersamaan. Terlebih anak-anak dan generasi muda dapat belajar tentang sportivitas serta nilai positif dalam berkompetisi,” ujar Tasidjawa.

Sementara itu, Koordinator Wilayah II Buru-Buru Selatan, Sami Latbual, memberikan apresiasi kepada Pengurus AMGPM Daerah Buru Selatan yang telah menginisiasi kegiatan tersebut tepat di tengah berlangsungnya ajang sepak bola dunia.

Latbual menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini menjadi ruang yang baik untuk mempertemukan masyarakat melalui olahraga, sekaligus memperkuat hubungan antar pemuda dan warga.

“Kegiatan ini bukan hanya tentang mencari pemenang, tetapi bagaimana kita membangun komunikasi, mempererat persaudaraan, serta menciptakan suasana kebersamaan melalui olahraga,” katanya.

Ia juga berharap seluruh peserta dapat menjaga ketertiban, mengedepankan sportivitas, serta menjadikan turnamen tersebut sebagai pengalaman positif bagi semua pihak yang terlibat.

Dalam pelaksanaan kegiatan, pihak kepolisian turut memberikan dukungan dengan mengimbau peserta dan masyarakat yang hadir agar bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban. Dukungan tersebut diharapkan dapat memastikan seluruh rangkaian pertandingan berlangsung aman, tertib, dan lancar.

Setelah berlangsung selama dua hari, Turnamen Penalty Kick AMGPM Daerah Buru Selatan resmi ditutup oleh Sekretaris AMGPM Daerah Buru Selatan, Pendeta Yohanis Pattinasarany.

Dalam sambutannya, Pattinasarany menyampaikan rasa syukur karena seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik hingga selesai. Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pengurus Besar AMGPM, Pemerintah Kabupaten Buru Selatan, Majelis Jemaat GPM Waenono-Kamlanglale, Pemerintah Desa Waenono, Pemerintah Desa Kamlanglale, Pengurus Cabang dan Pengurus Ranting AMGPM Wilayah Cabang I Talitakumi, serta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Keberhasilan kegiatan ini merupakan hasil dukungan dan kerja sama semua pihak. Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta dan pihak yang telah membantu sehingga Turnamen Penalty Kick ini dapat terlaksana dengan baik,” ungkap Pattinasarany.

Pada akhir kegiatan, panitia menetapkan tiga peserta terbaik sebagai juara I, II, dan III. Para pemenang menerima penghargaan berupa medali, piala, serta bonus sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang diraih dalam Turnamen Penalty Kick AMGPM Daerah Buru Selatan.

Turnamen tersebut diharapkan dapat menjadi agenda positif yang terus memperkuat semangat kebersamaan, sportivitas, dan persaudaraan masyarakat Buru Selatan melalui olahraga. (MC)

Namrole – Musyawarah Pimpinan Paripurna Cabang (MPPC) XII Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Cabang I Talitakumi yang berlangsung di Ranting Ebenhaezer Waetina, Minggu (31/5/2026), berjalan sukses dan menghasilkan sejumlah keputusan strategis bagi pelayanan organisasi pada tahun mendatang.

Kegiatan diawali dengan ibadah Minggu yang dipimpin oleh Pendeta C. Marolly/R. sebagai bentuk penghayatan spiritual sebelum memasuki agenda persidangan. MPPC XII diikuti oleh utusan dari delapan ranting yang berada di wilayah pelayanan Cabang I Talitakumi, para pendeta se-cabang, serta pengurus AMGPM tingkat daerah.

Ketua AMGPM Cabang I Talitakumi, Roby Tasidjawa, dalam pidato pembukaannya menjelaskan bahwa pelaksanaan MPPC bertujuan untuk mengevaluasi program pelayanan dan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja (APB) Pengurus Cabang Tahun 2025, sekaligus menetapkan program pelayanan dan APB Tahun 2026 serta berbagai keputusan strategis lainnya.

Menurut Tasidjawa, forum musyawarah tersebut bukanlah ruang untuk saling menghakimi, melainkan wadah evaluasi, pengembangan pelayanan, dan penguatan kaderisasi organisasi pemuda gereja.

“Melalui evaluasi yang dilakukan secara objektif dan matang, kita berharap kader AMGPM di wilayah pelayanan Cabang I Talitakumi tetap menjaga kebersamaan serta terus menjalankan panggilannya sebagai garam dan terang dunia,” ujarnya.

MPPC XII diselenggarakan dalam semangat tema pelayanan GPM, yakni “Anugerah Allah Melengkapi dan Meneguhkan Gereja Menuju Satu Abad GPM”, dengan subtema “Layanilah Umat dengan Tekun Sesuai Kasih Allah.”

Sementara itu, Ketua Bidang II Pengurus Daerah AMGPM, Vence Titawael, menekankan pentingnya konsolidasi organisasi sebagai bagian dari persiapan menuju pelaksanaan Musyawarah Pimpinan Paripurna (MPP) AMGPM di Kabupaten Buru Selatan pada tahun 2029 mendatang.

Selain itu, ia mendorong pemanfaatan lahan-lahan tidur menjadi lahan produktif guna mendukung kemandirian organisasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi kader AMGPM di masa depan.

Titawael juga mengingatkan pentingnya melanjutkan pembangunan gedung sekretariat Cabang I Talitakumi agar dapat segera diselesaikan dan diresmikan.

“Pembangunan gedung sekretariat cabang harus menjadi perhatian bersama karena akan menjadi pusat aktivitas organisasi dalam mendukung pelayanan ke depan,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Pendeta I. Aponno/S, selaku Ex Officio Wilayah Cabang I Talitakumi, berharap MPPC tidak hanya menjadi forum evaluasi dan pertanggungjawaban program kerja, tetapi juga mampu melahirkan keputusan-keputusan konstruktif yang berdampak positif bagi peningkatan kualitas pelayanan AMGPM.

Seluruh agenda persidangan berlangsung dengan lancar hingga penutupan yang dilakukan oleh Sekretaris Bidang V Pengurus Daerah AMGPM, Yanto Lemoso. Dalam sambutannya, ia berharap seluruh keputusan, program kerja, dan rekomendasi yang telah disahkan dalam forum dapat dilaksanakan secara konsisten dengan dukungan seluruh elemen organisasi.

“Keberhasilan pelaksanaan program yang telah diputuskan dalam MPPC XII membutuhkan dukungan dan kerja sama dari seluruh potensi yang ada di delapan ranting maupun seluruh perangkat pelayanan di lingkup AMGPM Cabang I Talitakumi,” katanya.

MPPC XII AMGPM Cabang I Talitakumi turut dihadiri para pendeta serta pengurus Daerah AMGPM Buru Selatan. Kegiatan ditutup dengan ibadah Perjamuan Kasih sebagai simbol berakhirnya seluruh rangkaian persidangan dan dinamika musyawarah dalam semangat persaudaraan serta pelayanan bersama.

(MC)

Waekatin - Pengurus AMGPM Daerah Buru Selatan terus memperkuat proses pengkaderan pemuda gereja melalui kegiatan Pendidikan Kader Jenjang Dasar (PKJD) yang berlangsung di Gedung Gereja Eirene Waekatin, Minggu (24/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung sukses itu dimulai sejak 23-25 Mei 2026 itu, dipusatkan di Ranting Eirene Waekatin Cabang VI Zaitun. 

Ketua Pelaksana PKJD Nelson Solissa mengatakan kegiatan tersebut diikuti enam ranting dari dua cabang, yakni Cabang IV Ora Et Labora dan Cabang VI Zaitun di wilayah pelayanan pegunungan dengan jumlah peserta sebanyak 108 orang.

“Peserta PKJD berasal dari enam ranting pada dua cabang di wilayah pelayanan pegunungan dengan total peserta sebanyak 108 orang. Seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung baik berkat dukungan semua pihak,” ujarnya.

Ketua Daerah AMGPM Buru Selatan, Erens J. Tasidjawa, mengatakan PKJD merupakan bagian penting dalam membina pemuda gereja sebagai penerus nilai-nilai Injili di tengah perkembangan zaman.

“Pendidikan Kader Jenjang Dasar bertujuan membina pemuda gereja sebagai pewaris dan penerus nilai-nilai Injili agar memiliki ketahanan iman, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, sosio ekonomi, sosio budaya, dan sosio politik untuk mewujudkan tanggung jawabnya dalam kehidupan bergereja, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” kata Tasidjawa.

Ia menjelaskan bahwa pengembangan kapasitas kader AMGPM dibangun melalui tiga pilar utama, yakni pilar keorganisasian, pilar kegerejaan atau kekristenan, dan pilar sosial.

Menurutnya, PKJD bukan sekadar agenda organisasi, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan kader.

“PKJD adalah tempat pembentukan. Tempat dimana karakter, iman, disiplin, cara berpikir, dan jiwa kepemimpinan seorang kader AMGPM dibentuk", ungkapnya. 

Ia menilai perkembangan teknologi, media sosial, dan perubahan sosial yang begitu cepat menjadi tantangan besar bagi generasi muda gereja saat ini.

“Hari ini dunia berubah begitu cepat. Perkembangan teknologi, media sosial, pergaulan, bahkan cara orang berpikir terus bergerak. Karena itu AMGPM membutuhkan kader-kader yang kuat iman, kuat mental, kuat pengetahuan, dan memiliki hati melayani,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta menerima paparan 16 materi PKJD yang diharapkan dapat dipahami dan dipraktikkan dalam tugas pelayanan di masing-masing jenjang pelayanan.

Harapannya melalui kegiatan ini akan lahir kader-kader militan yang terus memberi rasa dan membawa terang kasih Kristus di setiap lingkungan mereka ada. 

Ia juga mengingatkan seluruh peserta agar mengikuti seluruh proses pembelajaran dengan  serius dan penuh tanggung jawab.

“Jangan datang hanya untuk memenuhi syarat organisasi, tetapi datanglah dengan kerinduan untuk bertumbuh dan dipakai sebagai alat oleh Tuhan. Dengarkan para fasilitator, hormati setiap proses, bangun kebersamaan, dan tunjukkan bahwa kader AMGPM adalah kader yang punya kualitas,” tegasnya.

Kegiatan PKJD tersebut merupakan salah satu keputusan Konferda XIII AMGPM Buru Selatan pada Program Bidang I Organisasi, termasuk Pelatihan Jurnalistik pada Bidang IV Pekabaran Injil dan Komunikasi.

Selain penyampaian materi, rangkaian kegiatan juga diisi dengan senam pagi dan malam inisiasi bagi para peserta PKJD.

Menutup rangkaian kegiatan, Pengurus Daerah AMGPM Buru Selatan turut menyampaikan apresiasi kepada Majelis Pekerja Klasis GPM Buru Selatan, Majelis Jemaat Waekatin, serta Majelis Jemaat di kedua Cabang, panitia pelaksana, Pengurus Cabang IV Ora Et Labora, Pengurus Cabang VI Zaitun, Pengurus Ranting dan warga jemaat Waekatin, para pembina dan senioritas AMGPM serta semua pihak yang turut memberi dukungan selama kegiatan berlangsung.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Klasis GPM Buru Selatan Pendeta. Wendhel F. Lesbassa, Fasilitator Roby Tasidjawa, Sekretaris Daerah AMGPM Buru Selatan Pendeta Y. Pattinasarany, Bendahara Daerah Dolvina Luturmas, serta fungsionaris Pengurus Daerah. 

“Selamat belajar. Jadilah kader yang takut akan Tuhan, kuat dalam pelayanan, dan berguna bagi gereja, masyarakat, dan bangsa. Ingatlah moto kita "Kamu adalah Garam dan Terang Dunia," tutupnya. (MC) 

Tifu - Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM melalui Departemen Pekabaran Injil dan Pelayanan Kasih (PIPK) bersama Majelis Pekerja Klasis GPM Buru Selatan melalui Bidang PIPK melaksanakan kegiatan Pendampingan Penyusunan Peraturan Desa (PerDes/PerNeg) di Jemaat GPM Tifu, Klasis Buru Selatan. Agenda tersebut merupakan implementasi dari Keputusan Sidang ke-39 Sinode GPM Tahun 2025 serta Keputusan Sidang ke-62 Klasis GPM Buru Selatan Tahun 2026.

Pembukaan kegiatan diawali dengan ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Y. Pattinasarany. Dalam khotbahnya, Pattinasarany menekankan bahwa Roh Kudus memampukan umat untuk menjalankan legacy kekuasaan dari Allah melalui tanggung jawab pelayanan, kepemimpinan, serta keberpihakan terhadap kehidupan bersama di tengah masyarakat.

Kegiatan yang dipusatkan di Gedung Gereja Ebenhaezer Jemaat GPM Tifu berlangsung selama 3 hari sejak tanggal 26-28 Mei 2026, menghadirkan para kepala desa, ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh adat, tokoh pemuda serta para Pendeta GPM se-Klasis Buru Selatan. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa penyusunan PerDes menjadi instrumen sosial yang mengatur relasi masyarakat, adat, lingkungan hidup, dan kepentingan pembangunan desa secara berkelanjutan.

Sekretaris Departemen PIPK Sinode GPM, Pdt. Chris Lawalata, dalam arahannya menegaskan bahwa gereja memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk membangun kolaborasi strategis bersama pemerintah desa, terutama dalam mendorong lahirnya regulasi desa yang responsif terhadap persoalan lingkungan hidup dan hak-hak masyarakat adat.

"Kegiatan ini adalah bentuk kesadaran gereja untuk berkolaborasi dengan pemerintah sebagai mitra strategis dalam membantu pemerintah desa menyusun Peraturan Desa, secara khusus yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan hak-hak masyarakat adat," ujar Lawalata.

Menurutnya, gereja pada era saat ini tidak cukup hanya menjalankan fungsi pastoral dan liturgis, tetapi juga dituntut menghadirkan kontribusi nyata dalam menjawab berbagai persoalan publik yang berkembang di tengah masyarakat. Karena itu, pendampingan penyusunan PerDes menjadi salah satu bentuk praksis pelayanan gereja yang kontekstual dan transformatif.

Sementara itu, Bupati Buru Selatan dalam sambutannya yang dibacakan Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Buru Selatan Herry Waemese, menyampaikan apresiasi kepada MPH Sinode GPM bersama MPK Buru Selatan atas perhatian serius terhadap dinamika sosial masyarakat desa yang saat ini membutuhkan penguatan regulasi berbasis kepentingan bersama.

"Peraturan Desa menjadi kebutuhan penting sebagai rambu-rambu dalam kehidupan masyarakat desa yang memiliki kepastian hukum, terutama untuk meminimalisir potensi konflik sengketa tanah ulayat, batas desa, maupun pengelolaan sumber daya alam," ungkap Waemese.

Ia menambahkan, Pemerintah Daerah Kabupaten Buru Selatan berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan gagasan kolektif yang kemudian diterjemahkan menjadi produk hukum desa yang adaptif, aspiratif, dan mampu memperkuat otonomi serta jati diri desa adat di Kabupaten Buru Selatan.

Ketua Klasis Buru Selatan Pendeta. Wendhel F. Lesbassa berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat peran gereja sebagai kekuatan moral sekaligus mitra strategis masyarakat dan pemerintah dalam mengawal ruang publik yang berkeadilan, partisipatif, dan berorientasi pada keberlanjutan hidup bersama.

Adapun fasilitator yang dihadirkan dalam kegiatan ini berasal dari kalangan akademisi dan praktisi, yakni Piter Radjawane, A.D. Bakarbessy, serta Kepala Biro Hukum, HAM dan Advokasi Sinode GPM, Pdt. Sonny Reskir. (Mc) 

Namrole - Musyawarah Pimpinan Paripurna Cabang (MPPC) ke-15 AMGPM Cabang VII Eblalet resmi dibuka pada Minggu, 17 Mei 2026, bertempat di Ranting Nouthesya Grahwaen. Kegiatan tersebut menjadi forum penting organisasi dalam melakukan evaluasi pelayanan, konsolidasi organisasi, serta menetapkan arah program pelayanan untuk satu tahun pelayanan ke depan.

MPPC XV diikuti sebanyak 69 peserta yang terdiri dari 33 peserta biasa dan 36 peserta luar biasa dari delegasi enam ranting di wilayah pelayanan Cabang VII Eblalet. Agenda persidangan tersebut turut dihadiri unsur ex officio, para pembina ranting, serta pembina cabang di wilayah pelayanan Cabang VII Eblalet.

Turut hadir mendampingi Pengurus Daerah AMGPM Buru Selatan di antaranya Ketua Bidang I, Akoris Biloro, Ketua Bidang V, Temon Hukunala, serta Sekretaris Bidang I, Abraham Hukunala.

Pembukaan sidang dilakukan oleh Sekretaris Daerah AMGPM Buru Selatan, Pendeta. Yohanis Pattinasarany. Dalam arahannya, ia mengatakan bahwa MPPC merupakan amanat konstitusi organisasi sebagaimana diatur dalam Anggaran Rumah Tangga Pasal 17 sebagai lembaga legislatif tingkat cabang.

“MPPC memiliki tugas dan wewenang untuk mengevaluasi pelaksanaan program pelayanan, anggaran pendapatan dan belanja organisasi, serta menetapkan program pelayanan dan kebijakan organisasi untuk tahun pelayanan yang baru,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa forum MPPC tidak hanya dipandang sebagai agenda rutin organisasi, tetapi harus menjadi ruang evaluasi yang objektif, ruang komunikasi yang sehat, serta ruang pengambilan keputusan yang berpihak pada kepentingan pelayanan dan masa depan organisasi.

“Seluruh peserta sidang diharapkan mengikuti proses persidangan dengan menjunjung tinggi etika organisasi, semangat persaudaraan, dan penghormatan terhadap mekanisme konstitusi AMGPM,” katanya.

Dalam forum tersebut, Pengurus Daerah juga mendorong agar program-program pelayanan yang ditetapkan benar-benar menjawab kebutuhan cabang dan ranting, disusun secara realistis, terukur, serta menyentuh kebutuhan kader dan jemaat.

“Perhatian terhadap pendidikan kader perlu terus ditingkatkan agar lahir kader AMGPM yang memahami konstitusi organisasi, nilai-nilai gereja, serta tanggung jawab pelayanan,” lanjutnya.

Selain itu, pengembangan ekonomi kader juga menjadi perhatian bersama melalui pengelolaan kebun cabang dan kebun ranting sebagai bentuk pemberdayaan kader dan penguatan kemandirian organisasi.

“Cabang dan ranting perlu mulai memikirkan langkah-langkah strategis untuk membangun kemandirian ekonomi organisasi,” tambahnya.

Momentum MPPC XV juga dimaknai sebagai ruang konsolidasi organisasi, baik antara cabang dan ranting maupun secara internal Pengurus Cabang, termasuk dalam menghadapi dinamika organisasi dan proses Pergantian Antar Waktu atau PAW.

Pengurus Daerah turut menekankan pentingnya membangun hubungan yang harmonis dengan gereja, pemerintah, dan masyarakat sebagai mitra strategis dalam pelayanan organisasi pemuda gereja.

“Gereja harus tetap menjadi mitra utama dalam seluruh gerak pelayanan organisasi AMGPM,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Pengurus Daerah menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada AMGPM Ranting Nouthesya selaku tuan rumah yang telah menerima dan melayani seluruh peserta dengan semangat pelayanan dan kebersamaan.

Dengan berlandaskan semangat pelayanan AMGPM serta tuntunan Tuhan Yesus Kristus sebagai Kepala Organisasi, Musyawarah Pimpinan Paripurna Cabang ke-15 AMGPM Cabang VII Eblalet dapat berjalan aman dan tertib. (MC)

Namrole - Dari Namrole Sabtu, 25 April 2026 pukul 10.30 WIT, perjalanan dimulai menembus jalan berdebu, menyusuri lekuk waktu yang perlahan bergerak, hingga tiba di Nafrua sekitar pukul 13.20 WIT. Jalan panjang yang berdebu beterbangan di siang hari tetapi dilalui pula dalam guyuran hujan pada perjalanan kembali. di kiri-kanan terbentang seperti lukisan Sang Pencipta, pohon minyak kayu putih berjejer rapi, riuh riang-riang bersahut, menyambut kehadiran rombongan yang berjibaku melewati jalur ekstrem dan sungai yang menghadang. Perjalanan yang perlahan menuntun rombongan tiba di satu perjumpaan bersama umat pegunungan pulau buru yang telah lama dirindukan.
Setibanya di tanah Nafrua, di pelukan alam kaku Bipolo yang terbentang hijau, tabuhan tifa menggema dengan tarian adat Buru oleh umat di Nafrua yang bersorak sukacita menyambut kehadiran para Geba Sniuk. Ifutin dikenakan kepada Wakil Ketua I MPH Sinode GPM, Pendeta. Riko Rikumahu bersama Ketua Klasis Buru Selatan Pendeta. Wendhel F. Lesbassa dan Sekretaris Klasis Pendeta. Sammy M. Redjo, menghadirkan rasa yang merangkul semua geba sniuk yang hadir dalam kebersamaan yang indah, melalui sambutan yang menegaskan bahwa perjalanan panjang itu berakhir dalam kehangatan persekutuan yanh utuh.

Dari suasana penyambutan itu, rangkaian pelayanan berlanjut pada prosesi ibadah pemekaran dan pelembagaan yang dilaksanakan pada Minggu, 26 April 2026. Ibadah pemekaran berlangsung di Gereja Petra Jemaat GPM Batu Karang yang dipimpin oleh Pendeta. Glen Huwae, sementara akta pemekaran diserahkan oleh MPH Sinode GPM, menandai dimulainya babak baru dalam perjalanan jemaat.

Usai ibadah, pelayan dan umat berlanjut menuju Jemaat GPM Nafrua, langkah demi langkah berjalan dalam satu arah yang sama, seakan merajut kisah bahwa ziarah iman tidak pernah ditempuh sendiri, melainkan dalam kebersamaan yang saling menguatkan hingga benar-benar melahirkan Nafrua sebagai persekutuan yang terus bertumbuh.

Ibadah pelembagaan kemudian dipimpin oleh Pendeta. Riko Rikumahu, yang dalam khotbahnya menegaskan bahwa kehadiran gereja harus nyata dalam kehidupan umat.

“Gereja tidak hanya berdiri sebagai institusi, tetapi harus menghadirkan tindakan penyelamatan bagi umat di tengah pergumulan hidup,” tegasnya, menautkan pesan pelayanan dengan realitas kehidupan jemaat sehari-hari.

Peneguhan Ketua Majelis Jemaat GPM Nafrua, Penginjil. Jemris Latuwael, dilakukan oleh Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pendeta Wendhel F. Lesbassa, yang kemudian dilanjutkan dengan penyerahan Jemaat GPM Nafrua dari Klasis Buru Selatan kepada Klasis Buru Utara, dan diterima oleh Ketua Klasis GPM Buru Utara, Pendeta. Herfin Yandres Siahaya, menandai peralihan tanggung jawab pelayanan dalam satu kesatuan tubuh gereja.

Dalam sambutannya, Pendeta Wendhel F. Lesbassa menegaskan bahwa pelembagaan ini merupakan amanat Persidangan ke-39 Sinode GPM tahun 2025. Ia kemudian melanjutkan dengan ungkapan syukur dalam bahasa daerah sebelum menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam proses panjang pelayanan tersebut.

Lesbassa menyampaikan terima kasih kepada MPH Sinode GPM, para pendeta se-Klasis, tokoh adat, hingga Jemaat GPM Batu Karang yang setia mengawal pelayanan sejak awal Pekabaran Injil tahun 2019, yang diawali dengan baptisan 36 orang hingga berkembang dari Pos PI menjadi Sektor PI, sampai akhirnya dilembagakan.

Sementara itu, dalam arahannya, Wakil Ketua I MPH Sinode GPM, Pendeta Riko Rikumahu, mengingatkan bahwa pelayanan harus terus dijalankan dengan kesungguhan dan kedekatan dengan umat.

“Ketua Majelis Jemaat yang baru diteguhkan harus hadir di tengah umat, berjumpa dengan mereka, mendengar mereka, dan melayani dengan hati,” tegasnya, meneguhkan arah pelayanan ke depan.

Seluruh rangkaian ini kemudian bermuara pada satu pemahaman bersama bahwa Nafrua bukan hadir secara tiba-tiba, melainkan lahir dari proses panjang, dari perjumpaan yang terus dirawat, dan dari iman yang tidak berhenti berjalan, ziarah yang kini menemukan bentuknya dalam kehidupan jemaat yang terus bertumbuh. (MC)

Namrole - Majelis Pekerja Klasis Buru Selatan menggelar Training of Trainers (TOT) Penataran Majelis Jemaat Tahun 2026 yang diikuti para pendeta, penginjil, penatua, dan diaken. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut amanat Persidangan ke-62 Klasis GPM Buru Selatan tahun 2026.


Ketua Klasis Buru Selatan, Pdt. W. F. Lesbassa, dalam arahannya mengajak seluruh pelayan untuk mensyukuri panggilan pelayanan. "Kita bersyukur karena pelayanan ini terjadi hanya oleh kasih dan kemurahan Tuhan," ujarnya.


Ia menegaskan pentingnya kesadaran iman para pelayan. "Tuhan adalah pemilik gereja yang akan terus memampukan kita dalam menjalankan tugas pelayanan di tengah jemaat. Iman dan pengharapan kita adalah iman yang hidup," katanya.


Ia menjelaskan, penataran ini bertujuan menata tugas pelayanan gereja, menertibkan perangkat pelayan dan organisasi, serta membangun tata kelola yang baik. "Kita ingin pelayanan gereja berjalan tertib, baik dari sisi manajemen maupun pengelolaan harta milik," tambahnya.


Selain itu, ia juga menekankan komitmen 3T sebagai spirit pelayanan. "Tertib administrasi, tertib keuangan, dan tertib pelayanan harus menjadi dasar dalam setiap tugas pelayanan kita," tegasnya.

Kegiatan TOT Penataran Majelis Jemaat dilaksanakan secara bertahap di empat rayon. Rayon Timur berlangsung di Jemaat GPM Waenono-Kamlanglale pada 22–24 April 2026.


Selanjutnya, kegiatan dilaksanakan di Rayon Pegunungan di Jemaat GPM Waekatin pada 28–30 April, Rayon Barat di Jemaat GPM Waeturan pada 3–5 Mei, serta Rayon Pusat Klasis di Jemaat GPM Leksula pada 6–8 Mei 2026.


Ketua Klasis juga menyampaikan apresiasi kepada Majelis Jemaat, pelayan, dan umat di Jemaat GPM Waenono-Kamlanglale. "Terima kasih atas dukungannya sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan sukses," ucapnya.


Kegiatan ini menghadirkan sejumlah fasilitator, yakni Pdt. Ny. J. Talahatu selaku Kepala Bagian Personalia Sinode GPM, Ketua Klasis Buru Selatan Pdt. W. F. Lesbassa, serta Sekretaris Klasis Buru Selatan Pdt. S. M. Redjo.


Di akhir arahannya, ia menegaskan pentingnya keseriusan peserta dalam mengikuti kegiatan. "Ini adalah forum pembelajaran bersama, bukan evaluasi. Karena itu, saya minta semua peserta fokus dan sungguh-sungguh selama kegiatan berlangsung," tutupnya. (MC)

Cari Website Ini


Cari Ayat Alkitab


Ketik kata atau ayat:

Alkitab Bahan

Berita Daerah AMGPM

Seputar AMGPM

Sering Di Baca

Total Pageviews

Site Archive