Jesus

Chat Kami

Featured Post

Jemaat Waenono-Kamlanglale Semarakkan HUT Ke-91 GPM

NAMROLE - Menyongsong Hari Ulang Tahun ke-91 Gereja Protestan Maluku (GPM), Jemaat GPM Waenono-Kamlanglale, Klasis Buru Selatan, menggelar ...

All Info AMGPM

Berita Daerah AMGPM

Baca Juga

Syalom...

Berita Cabang AMGPM

Berita Ranting AMGPM


NAMROLE - Menyongsong Hari Ulang Tahun ke-91 Gereja Protestan Maluku (GPM), Jemaat GPM Waenono-Kamlanglale, Klasis Buru Selatan, menggelar pembukaan rangkaian berbagai perlombaan, Jumat 28 Agustus 2026 pukul 18.00 Wit.


Pembukaan yang berlangsung di depan Gedung Gereja Imanuel Waenono-Kamlanglale itu berlangsung semarak. Ratusan warga jemaat dari delapan unit pelayanan ambil bagian dalam parade, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.


Semarak pembukaan semakin terasa dengan penampilan yel-yel dari masing-masing unit pelayanan diantaranya Unit Eglinan, Hailalet, Unit Muan Modan, Waemodat, Leasida, Unit Leakeha, Haiopo dan Unit Muhawaen.


Rangkaian kegiatan diakhiri dengan pembakaran obor induk secara bersama oleh Ketua Majelis Jemaat, para pelayan dan warga gereja prfesi. Prosesi ini menjadi semangat kebersamaan serta komitmen untuk terus menjaga nyala api Injil dalam kehidupan persekutuan dan pelayanan jemaat.


Ketua Majelis Jemaat GPM Waenono-Kamlanglale, Pendeta J. Lopulalan/Tasidjawa, mengatakan peringatan HUT ke-91 GPM yang dilaksanakan pada 6 September nanti menjadi kesempatan bagi seluruh warga jemaat untuk kembali mensyukuri penyertaan Tuhan dalam perjalanan Gereja Protestan Maluku.


“Selama 91 tahun, api Injil terus menyala dan membawa kabar sukacita bagi umat Tuhan. Kiranya api Injil itu terus menyala di Jemaat GPM Waenono-Kamlanglale sampai ke seluruh wilayah pelayanan Gereja Protestan Maluku,” katanya.


Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan HUT tidak sekadar menjadi perlombaan, tetapi menjadi ruang mempererat persekutuan dan kebersamaan warga jemaat.


“Kiranya seluruh rangkaian kegiatan yang akan katong jalani bersama beberapa hari kedepan menjadi bagian dari sukacita persekutuan. Mari katong isi HUT ini dengan kebersamaan dan semangat untuk saling menopang sebagai satu tubuh Kristus,” ujarnya.


Sementara itu, Ketua PHBG Jemaat Waenono-Kamlanglale Ronal Latbual, mengatakan rangkaian menyongsong HUT ke-91 GPM akan diisi dengan berbagai perlombaan yang melibatkan seluruh unsur warga jemaat.


Sejumlah agenda yang telah disiapkan diantaranya Baris Indah, Penalty Kick, Lomba Paduan Suara, Solo dan berbagai rangkain lomba lainnya akan ditampilkan. 


Rangkaian perlombaan tersebut melibatkan seluruh unsur jemaat, mulai dari anak-anak SMTPI, pengasuh, wadah-wadah pelayanan hingga Angkatan Muda.


Latbual juga mengajak seluruh warga jemaat untuk berpartisipasi dan menyukseskan setiap agenda yang telah disiapkan hingga puncak perayaan HUT ke-91 GPM.


“Harapannya, seluruh warga jemaat dapat bersama-sama mengikuti dan menyukseskan rangkaian kegiatan ini. Bukan hanya soal menang atau kalah dalam perlombaan, tetapi bagaimana katong membangun kebersamaan, sukacita dan rasa memiliki sebagai satu keluarga besar Jemaat GPM Waenono-Kamlanglale,” ungkapnya.


Rangkaian kegiatan tersebut akan berlanjut hingga Malam 'Kajadiang HUT GPM', yang menjadi puncak perayaan. Agenda itu akan diawali dengan Ibadah Syukur HUT ke-91 GPM dan ditutup dengan Makan Patita bersama seluruh warga jemaat. (MC) 

Saparua - Klasis GPM Buru Selatan mendorong penguatan pola pelayanan melalui pertukaran pengalaman dan sumber daya lintas klasis. Langkah ini dinilai penting untuk menjawab perbedaan konteks pelayanan gereja, khususnya antara wilayah kontinental Buru Selatan dan karakter pelayanan laut-pulau di Kepulauan Lease.

Gagasan tersebut disampaikan Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pendeta Wendhel F. Lesbassa, saat membuka Rapat Konsultasi Semester I Klasis GPM Buru Selatan di Klasis GPM Pulau-Pulau Lease, Saparua, Jumat (7/8/2026).

Turut hadir dalam agenda tersebut Ketua Klasis GPM Pulau-Pulau Lease, Pdt. Jhon Malle, Sekretaris Klasis GPM Pulau-Pulau Lease, Pdt. Roy Mail, Sekretaris Klasis GPM Buru Selatan Pdt. S. M. Redjo, Ketua Daerah AMGPM Buru Selatan, Erens Jani Tasidjawa, serta Ketua Daerah AMGPM Pulau-Pulau Lease Jenly Latuihamallo.

Dalam arahannya Lesbassa mengatakan, pelaksanaan rapat konsultasi di Klasis GPM Pulau-Pulau Lease merupakan bagian dari upaya memperkuat semangat kebersamaan, saling belajar dan berbagi sumber daya antarjemaat maupun antarklasis dalam menjalankan pelayanan GPM.

Menurutnya, kedua wilayah memiliki tantangan pelayanan masing-masing. Buru Selatan berada dalam konteks kontinental dengan karakter gunung, lembah dan sungai. Dalam praktiknya, pelayanan juga dihadapkan pada perjalanan laut, cuaca dan ombak. Sementara Pulau-Pulau Lease berada dalam konteks laut-pulau dengan dinamika geografis serta karakter sosial masyarakat yang khas.

Perbedaan konteks tersebut, kata Lesbassa, harus menjadi ruang pembelajaran bersama. Pelayanan GPM tidak cukup hanya dipahami dari pengalaman masing-masing wilayah, tetapi perlu diperkuat melalui pertukaran pengalaman antarkonteks pelayanan.

“Dalam semangat ini kita saling belajar, kita akan terus dimampukan untuk berkarya dan melayani di Gereja Protestan Maluku,” ujar Mantan Ketua Klasis Buru Utara.

Ia menegaskan, semangat tersebut sejalan dengan upaya menjalankan prakarsa desentralisasi untuk menjawab pergumulan bersama sebagai gereja. Karena itu, pengalaman pelayanan di wilayah lain perlu dilihat sebagai sumber pembelajaran dalam menyusun pola dan perencanaan pelayanan GPM.

Lesbassa juga menyinggung sejarah panjang Klasis GPM Pulau-pulau Lease yang pada 2026 memasuki persidangan ke-98. Usia tersebut bahkan lebih tua dibandingkan GPM yang pada tahun yang sama memasuki usia ke-91.

Pilihan Klasis GPM Buru Selatan menggelar Rapat Konsultasi di Lease juga dilatarbelakangi semangat untuk saling belajar dan berbagi pengalaman.

Pertukaran pengalaman dengan klasis yang memiliki sejarah panjang dinilai dapat memperkaya pemahaman dan praktik pelayanan.

“Kita datang bukan untuk saling menggurui tetapi saling belajar dan berbagi pengalaman dalam memperkuat komitmen sebagai pelayan GPM,”tutur mantan Ketua Daerah AMGPM Buru Utara.

Rapat Konsultasi Klasis sendiri merupakan bagian dari amanat Peraturan Pokok GPM tentang Klasis, terutama dalam menjabarkan keputusan-keputusan sinodal dan klasis ke dalam pelaksanaan pelayanan di tingkat klasis dan jemaat.

Dalam kesempatan tersebut, Lesbassa menyampaikan apresiasi kepada MPK Klasis GPM Pulau-Pulau Lease dan jemaat-jemaat yang menjadi tuan rumah atas pelayanan selama rombongan Klasis GPM Buru Selatan berada di Saparua.

Ia menyebut, terdapat 27 jemaat dalam Klasis GPM Pulau-pulau Lease, dengan 15 jemaat berada di Pulau Saparua. Selama berada di wilayah tersebut, rombongan Klasis GPM Buru Selatan juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke sejumlah lokasi wisata, termasuk Bentemg Duurstede dan salah satu sentra produksi sempe tradisional serta melaksanakan pergumulan bersama di Gereja Zebaoth, Jemaat GPM Saparua-Tiouw.

Lesbassa meminta seluruh anggota MPK dan para Ketua Majelis Jemaat Klasis GPM Buru Selatan mengikuti rapat konsultasi secara serius, terutama dalam merumuskan langkah pelayanan yang dapat menjawab pergumulan bersama.

Rapat Konsultasi Semester I Klasis GPM Buru Selatan kemudian dibuka dengan penegasan kembali komitmen pelayanan berdasarkan moto GPM Buru Selatan, Aku Menanam Apolos Menyiram, Tetapi Allah Yang Memberi Pertumbuhan "Yako Seka, Apolos Tofa, Opolastala Ya Huke Enewet."

(Tim Redaksi) 

Tifu - Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM melalui Departemen Pekabaran Injil dan Pelayanan Kasih (PIPK) bersama Majelis Pekerja Klasis GPM Buru Selatan melalui Bidang PIPK melaksanakan kegiatan Pendampingan Penyusunan Peraturan Desa (PerDes/PerNeg) di Jemaat GPM Tifu, Klasis Buru Selatan. Agenda tersebut merupakan implementasi dari Keputusan Sidang ke-39 Sinode GPM Tahun 2025 serta Keputusan Sidang ke-62 Klasis GPM Buru Selatan Tahun 2026.

Pembukaan kegiatan diawali dengan ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Y. Pattinasarany. Dalam khotbahnya, Pattinasarany menekankan bahwa Roh Kudus memampukan umat untuk menjalankan legacy kekuasaan dari Allah melalui tanggung jawab pelayanan, kepemimpinan, serta keberpihakan terhadap kehidupan bersama di tengah masyarakat.

Kegiatan yang dipusatkan di Gedung Gereja Ebenhaezer Jemaat GPM Tifu berlangsung selama 3 hari sejak tanggal 26-28 Mei 2026, menghadirkan para kepala desa, ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh adat, tokoh pemuda serta para Pendeta GPM se-Klasis Buru Selatan. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa penyusunan PerDes menjadi instrumen sosial yang mengatur relasi masyarakat, adat, lingkungan hidup, dan kepentingan pembangunan desa secara berkelanjutan.

Sekretaris Departemen PIPK Sinode GPM, Pdt. Chris Lawalata, dalam arahannya menegaskan bahwa gereja memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk membangun kolaborasi strategis bersama pemerintah desa, terutama dalam mendorong lahirnya regulasi desa yang responsif terhadap persoalan lingkungan hidup dan hak-hak masyarakat adat.

"Kegiatan ini adalah bentuk kesadaran gereja untuk berkolaborasi dengan pemerintah sebagai mitra strategis dalam membantu pemerintah desa menyusun Peraturan Desa, secara khusus yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan hak-hak masyarakat adat," ujar Lawalata.

Menurutnya, gereja pada era saat ini tidak cukup hanya menjalankan fungsi pastoral dan liturgis, tetapi juga dituntut menghadirkan kontribusi nyata dalam menjawab berbagai persoalan publik yang berkembang di tengah masyarakat. Karena itu, pendampingan penyusunan PerDes menjadi salah satu bentuk praksis pelayanan gereja yang kontekstual dan transformatif.

Sementara itu, Bupati Buru Selatan dalam sambutannya yang dibacakan Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Buru Selatan Herry Waemese, menyampaikan apresiasi kepada MPH Sinode GPM bersama MPK Buru Selatan atas perhatian serius terhadap dinamika sosial masyarakat desa yang saat ini membutuhkan penguatan regulasi berbasis kepentingan bersama.

"Peraturan Desa menjadi kebutuhan penting sebagai rambu-rambu dalam kehidupan masyarakat desa yang memiliki kepastian hukum, terutama untuk meminimalisir potensi konflik sengketa tanah ulayat, batas desa, maupun pengelolaan sumber daya alam," ungkap Waemese.

Ia menambahkan, Pemerintah Daerah Kabupaten Buru Selatan berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan gagasan kolektif yang kemudian diterjemahkan menjadi produk hukum desa yang adaptif, aspiratif, dan mampu memperkuat otonomi serta jati diri desa adat di Kabupaten Buru Selatan.

Ketua Klasis Buru Selatan Pendeta. Wendhel F. Lesbassa berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat peran gereja sebagai kekuatan moral sekaligus mitra strategis masyarakat dan pemerintah dalam mengawal ruang publik yang berkeadilan, partisipatif, dan berorientasi pada keberlanjutan hidup bersama.

Adapun fasilitator yang dihadirkan dalam kegiatan ini berasal dari kalangan akademisi dan praktisi, yakni Piter Radjawane, A.D. Bakarbessy, serta Kepala Biro Hukum, HAM dan Advokasi Sinode GPM, Pdt. Sonny Reskir. (Mc) 

Namrole - Dari Namrole Sabtu, 25 April 2026 pukul 10.30 WIT, perjalanan dimulai menembus jalan berdebu, menyusuri lekuk waktu yang perlahan bergerak, hingga tiba di Nafrua sekitar pukul 13.20 WIT. Jalan panjang yang berdebu beterbangan di siang hari tetapi dilalui pula dalam guyuran hujan pada perjalanan kembali. di kiri-kanan terbentang seperti lukisan Sang Pencipta, pohon minyak kayu putih berjejer rapi, riuh riang-riang bersahut, menyambut kehadiran rombongan yang berjibaku melewati jalur ekstrem dan sungai yang menghadang. Perjalanan yang perlahan menuntun rombongan tiba di satu perjumpaan bersama umat pegunungan pulau buru yang telah lama dirindukan.
Setibanya di tanah Nafrua, di pelukan alam kaku Bipolo yang terbentang hijau, tabuhan tifa menggema dengan tarian adat Buru oleh umat di Nafrua yang bersorak sukacita menyambut kehadiran para Geba Sniuk. Ifutin dikenakan kepada Wakil Ketua I MPH Sinode GPM, Pendeta. Riko Rikumahu bersama Ketua Klasis Buru Selatan Pendeta. Wendhel F. Lesbassa dan Sekretaris Klasis Pendeta. Sammy M. Redjo, menghadirkan rasa yang merangkul semua geba sniuk yang hadir dalam kebersamaan yang indah, melalui sambutan yang menegaskan bahwa perjalanan panjang itu berakhir dalam kehangatan persekutuan yanh utuh.

Dari suasana penyambutan itu, rangkaian pelayanan berlanjut pada prosesi ibadah pemekaran dan pelembagaan yang dilaksanakan pada Minggu, 26 April 2026. Ibadah pemekaran berlangsung di Gereja Petra Jemaat GPM Batu Karang yang dipimpin oleh Pendeta. Glen Huwae, sementara akta pemekaran diserahkan oleh MPH Sinode GPM, menandai dimulainya babak baru dalam perjalanan jemaat.

Usai ibadah, pelayan dan umat berlanjut menuju Jemaat GPM Nafrua, langkah demi langkah berjalan dalam satu arah yang sama, seakan merajut kisah bahwa ziarah iman tidak pernah ditempuh sendiri, melainkan dalam kebersamaan yang saling menguatkan hingga benar-benar melahirkan Nafrua sebagai persekutuan yang terus bertumbuh.

Ibadah pelembagaan kemudian dipimpin oleh Pendeta. Riko Rikumahu, yang dalam khotbahnya menegaskan bahwa kehadiran gereja harus nyata dalam kehidupan umat.

“Gereja tidak hanya berdiri sebagai institusi, tetapi harus menghadirkan tindakan penyelamatan bagi umat di tengah pergumulan hidup,” tegasnya, menautkan pesan pelayanan dengan realitas kehidupan jemaat sehari-hari.

Peneguhan Ketua Majelis Jemaat GPM Nafrua, Penginjil. Jemris Latuwael, dilakukan oleh Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pendeta Wendhel F. Lesbassa, yang kemudian dilanjutkan dengan penyerahan Jemaat GPM Nafrua dari Klasis Buru Selatan kepada Klasis Buru Utara, dan diterima oleh Ketua Klasis GPM Buru Utara, Pendeta. Herfin Yandres Siahaya, menandai peralihan tanggung jawab pelayanan dalam satu kesatuan tubuh gereja.

Dalam sambutannya, Pendeta Wendhel F. Lesbassa menegaskan bahwa pelembagaan ini merupakan amanat Persidangan ke-39 Sinode GPM tahun 2025. Ia kemudian melanjutkan dengan ungkapan syukur dalam bahasa daerah sebelum menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam proses panjang pelayanan tersebut.

Lesbassa menyampaikan terima kasih kepada MPH Sinode GPM, para pendeta se-Klasis, tokoh adat, hingga Jemaat GPM Batu Karang yang setia mengawal pelayanan sejak awal Pekabaran Injil tahun 2019, yang diawali dengan baptisan 36 orang hingga berkembang dari Pos PI menjadi Sektor PI, sampai akhirnya dilembagakan.

Sementara itu, dalam arahannya, Wakil Ketua I MPH Sinode GPM, Pendeta Riko Rikumahu, mengingatkan bahwa pelayanan harus terus dijalankan dengan kesungguhan dan kedekatan dengan umat.

“Ketua Majelis Jemaat yang baru diteguhkan harus hadir di tengah umat, berjumpa dengan mereka, mendengar mereka, dan melayani dengan hati,” tegasnya, meneguhkan arah pelayanan ke depan.

Seluruh rangkaian ini kemudian bermuara pada satu pemahaman bersama bahwa Nafrua bukan hadir secara tiba-tiba, melainkan lahir dari proses panjang, dari perjumpaan yang terus dirawat, dan dari iman yang tidak berhenti berjalan, ziarah yang kini menemukan bentuknya dalam kehidupan jemaat yang terus bertumbuh. (MC)

Namrole - Majelis Pekerja Klasis Buru Selatan menggelar Training of Trainers (TOT) Penataran Majelis Jemaat Tahun 2026 yang diikuti para pendeta, penginjil, penatua, dan diaken. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut amanat Persidangan ke-62 Klasis GPM Buru Selatan tahun 2026.


Ketua Klasis Buru Selatan, Pdt. W. F. Lesbassa, dalam arahannya mengajak seluruh pelayan untuk mensyukuri panggilan pelayanan. "Kita bersyukur karena pelayanan ini terjadi hanya oleh kasih dan kemurahan Tuhan," ujarnya.


Ia menegaskan pentingnya kesadaran iman para pelayan. "Tuhan adalah pemilik gereja yang akan terus memampukan kita dalam menjalankan tugas pelayanan di tengah jemaat. Iman dan pengharapan kita adalah iman yang hidup," katanya.


Ia menjelaskan, penataran ini bertujuan menata tugas pelayanan gereja, menertibkan perangkat pelayan dan organisasi, serta membangun tata kelola yang baik. "Kita ingin pelayanan gereja berjalan tertib, baik dari sisi manajemen maupun pengelolaan harta milik," tambahnya.


Selain itu, ia juga menekankan komitmen 3T sebagai spirit pelayanan. "Tertib administrasi, tertib keuangan, dan tertib pelayanan harus menjadi dasar dalam setiap tugas pelayanan kita," tegasnya.

Kegiatan TOT Penataran Majelis Jemaat dilaksanakan secara bertahap di empat rayon. Rayon Timur berlangsung di Jemaat GPM Waenono-Kamlanglale pada 22–24 April 2026.


Selanjutnya, kegiatan dilaksanakan di Rayon Pegunungan di Jemaat GPM Waekatin pada 28–30 April, Rayon Barat di Jemaat GPM Waeturan pada 3–5 Mei, serta Rayon Pusat Klasis di Jemaat GPM Leksula pada 6–8 Mei 2026.


Ketua Klasis juga menyampaikan apresiasi kepada Majelis Jemaat, pelayan, dan umat di Jemaat GPM Waenono-Kamlanglale. "Terima kasih atas dukungannya sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan sukses," ucapnya.


Kegiatan ini menghadirkan sejumlah fasilitator, yakni Pdt. Ny. J. Talahatu selaku Kepala Bagian Personalia Sinode GPM, Ketua Klasis Buru Selatan Pdt. W. F. Lesbassa, serta Sekretaris Klasis Buru Selatan Pdt. S. M. Redjo.


Di akhir arahannya, ia menegaskan pentingnya keseriusan peserta dalam mengikuti kegiatan. "Ini adalah forum pembelajaran bersama, bukan evaluasi. Karena itu, saya minta semua peserta fokus dan sungguh-sungguh selama kegiatan berlangsung," tutupnya. (MC)

Buru Selatan - Sidang ke-62 Klasis GPM Buru Selatan yang berlangsung di Jemaat Namrinat, Minggu (22/03/2026), menyoroti peran gereja dalam merespons berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat, sekaligus mendorong penerapan tertib administrasi, tertib keuangan, dan tertib pelayanan (3T).

Kegiatan dimulai dengan ibadah pada pukul 09.00 WIT yang dipimpin oleh Pdt. H. D. Behuku sebagai pemimpin liturgos dan Pdt. R. Parera sebagai pelayan firman, dari pembacaan Injil Matius 27:11-26 melalui tema mingguan "Bertanggungjawablah Demi Keadilan, Jangan Cuci Tangan."
Dalam rangkaian pembukaan sidang, Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pendeta Wen Lesbassa, menyampaikan pokok pikiran pelayanan gereja yang menekankan relasi kemanusiaan, tanggung jawab iman, serta peran gereja dalam menjawab dinamika sosial.

Lesbassa mengatakan momentum persidangan tahun ini dinilai memiliki makna karena berlangsung bersamaan dengan Minggu Sengsara Kristus ke-6 sebagai karya penebusan Allah di dalam Kristus dan perayaan Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah oleh umat Islam sebagai simbol kemenangan iman.

"Atas nama warga GPM se-Klasis Buru Selatan, kami menyampaikan Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin, selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri," ujarnya.

Menurutnya, kedua momentum tersebut menegaskan bahwa beragama adalah pemenuhan relasi Ilahi melalui relasi kemanusiaan, di mana manusia berjumpa sebagai sesama yang setara dan sebagai saudara dalam nilai Kai-Wait.

Ia mengatakan Kai-Wait merupakan nilai budaya sekaligus energi kebudayaan yang mendorong lahirnya kasih, keterbukaan, dan saling menghormati antar sesama tanpa memandang suku dan agama. Nilai tersebut juga tercermin dalam tradisi penyambutan masyarakat Buru Selatan melalui penyematan ifutin bagi laki-laki dan selendang bagi perempuan sebagai bagian dari penerimaan yang tulus.

Dalam konteks pelayanan, Lesbassa mengingatkan bahwa gereja adalah komunitas persaudaraan yang dipanggil untuk menjadi pembelajar Kai-Wait, serta menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sosial.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran profetik gereja dengan menjadi teladan dalam tutur kata, tindakan, gaya hidup, dan cara pandang yang tidak eksklusif, serta tetap menyuarakan keadilan, kasih, kesejahteraan, dan komitmen merawat perdamaian.

"Kita harus menjadi teladan moral di tengah kerapuhan moral akibat disrupsi teknologi dan disrupsi etik, tidak melumrahkan hate speech, bullying, kekerasan, korupsi, dan ketidakadilan," tegasnya.

Persidangan ini dilaksanakan dalam bingkai tema pelayanan lima tahun GPM, "Anugerah Allah Melengkapi dan Meneguhkan Gereja Menuju Satu Abad GPM" dan subtema tahun 2026, "Layanilah Umat dengan Tekun Sesuai Kasih Allah."

Ia juga menyoroti pentingnya kepekaan pelayan gereja dalam membaca realitas sosial, sehingga pelayanan tidak hanya bersifat rutin, tetapi mampu menjawab perubahan perilaku masyarakat.

Selain itu, pelaksanaan persidangan secara bergilir di jemaat disebut sebagai bentuk kemitraan strategis antara gereja, pemerintah desa, tokoh adat, dan tokoh agama dalam semangat Kai-Wait.

Pada kesempatan itu, ia juga menyoroti berbagai kendala klasik seperti infrastruktur jalan dengan harapan adanya perhatian pemerintah guna menunjang mobilitas masyarakat termasuk ruas jalan Namrole–Leksula.

Dalam arah pelayanan ke depan, Klasis GPM Buru Selatan akan menetapkan Rencana Pengembangan Pelayanan Klasis (RPPK) 2026–2030 dengan fokus pada pendidikan, pembinaan anak dan remaja melalui SM-TPI, pembinaan keluarga (Binakel), peningkatan kapasitas pelayan, serta pengelolaan lingkungan hidup.

Lesbassa menjelaskan, pada sektor pendidikan gereja memberikan perhatian serius terhadap penyelenggaraan pendidikan melalui Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Dr. J.B. Sitanala, khususnya dalam mengatasi keterbatasan tenaga guru pada sejumlah sekolah dasar yang dikelola gereja.

Selain itu, penguatan pendidikan formal gereja juga diarahkan pada peningkatan kapasitas pengasuh Sekolah Minggu Tunas Pekabaran Injil (SM-TPI) sebagai wadah pembinaan iman dan kreativitas anak dan remaja.

Pada aspek pembinaan keluarga, ia menegaskan bahwa keluarga merupakan basis utama pelayanan gereja yang harus terus diperkuat sebagai "gereja rumah tangga" (ecclesia domestica), melalui nilai kasih, saling pengertian, serta kehidupan yang saling menopang.

Di sisi lain, gereja juga mendorong peningkatan kesadaran ekologis melalui pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan, termasuk menjaga keseimbangan ekosistem dan pelestarian sumber daya alam.

Menurutnya, seluruh upaya pelayanan tersebut sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten Buru Selatan melalui nilai BerAKHLAK, yang menekankan pentingnya moralitas, etika, spiritualitas, serta tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Untuk tahun 2026, Lesbassa menekankan komitmennya terhadap pelayanan kedepan melalui penerapan 3T yakni : tertib administrasi, tertib keuangan, dan tertib pelayanan sebagai budaya kerja yang harus didorong secara bersama.

Arahan Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM Pendeta Sacharias I. Sapulette yang disampaikan oleh Anggota MPH Sinode GPM Penatua. Natelda R. Timisela menyebutkan bahwa persidangan ini memiliki posisi strategis pasca Sidang ke-39 Sinode GPM dan Sidang pertama pada dasawarsa ke-5 pelaksanaan PIP-RIPP GPM.

Disebutkan, sidang ini menjadi momentum penting dalam menerjemahkan visi, misi, dan arah pengembangan pelayanan GPM pada dasawarsa baru menuju satu abad GPM tahun 2035, sekaligus menjabarkan ketetapan-ketetapan Sidang Sinode di tingkat klasis dan jemaat.

Pada dasawarsa ke-5 ini, GPM dipandu oleh visi "Menjadi Gereja yang Berbuah dalam Anugerah Allah Tritunggal" sebagai pengembangan dari visi sebelumnya, yakni "Berakar dalam Allah Tritunggal, Bertumbuh Bersama Merawat dan Membela Kehidupan."

"Gereja tidak hadir untuk dirinya sendiri, melainkan menjadi agen pemulihan yang menyentuh luka-luka sosial, batin dan struktural dalam masyarakat," demikian disampaikan.

Gereja, lanjutnya, dipanggil untuk hadir secara inklusif dan berdampak dengan membuahkan kebaikan, keadilan, kebenaran, kesejahteraan, perdamaian, serta menjaga keutuhan ciptaan.

Dalam arah pelayanan tersebut, berbagai persoalan seperti kemiskinan, keterbatasan akses dan kualitas pendidikan serta kesehatan, krisis keluarga, trauma sosial, konflik, hingga dampak eksploitasi sumber daya alam menjadi perhatian bersama yang menuntut kehadiran gereja secara aktif dan kontekstual.

Pihaknya juga menyoroti bahwa pelayanan gereja tidak cukup hanya bersifat rutin, tetapi perlu menghadirkan terobosan yang digerakkan oleh spiritualitas pembaruan dan pembebasan guna mendorong transformasi nyata dalam kehidupan jemaat.

Selain itu, pihaknya menambahkan bahwa perhatian terhadap keluarga sebagai "gereja rumah tangga" perlu diperkuat melalui pendampingan pastoral, termasuk dalam menghadapi persoalan sosial seperti kekerasan dalam rumah tangga, judi online, pinjaman online, serta relasi keluarga yang rapuh.

Pemberdayaan ekonomi umat juga didorong melalui program Gerakan Keluarga Menanam, Melaut, Beternak, dan Memasarkan sebagai gerakan bersama di seluruh klasis dan jemaat dengan indikator yang terukur.

Di bidang pendidikan dan kesehatan, ditekankan pentingnya peningkatan kualitas sekolah-sekolah gereja, pemenuhan tenaga pendidik, serta edukasi pola hidup sehat termasuk perhatian terhadap kesehatan mental umat.

Lebih lanjut Timisela menambahkan bahwa penguatan kapasitas dan integritas pelayan gereja menjadi hal penting dalam menghadapi tantangan perubahan sosial dan perkembangan teknologi digital.

Berbagai isu strategis lainnya seperti pengelolaan lingkungan, penanggulangan bencana, penguatan relasi lintas iman, serta transformasi pelayanan berbasis teknologi digital juga diharapkan terus dikembangkan sesuai konteks wilayah pelayanan masing-masing.

Kesempatan yang sama Bupati Buru Selatan, La Hamidi dalam sambutannya  menyampaikan bahwa Klasis GPM Buru Selatan yang terdiri dari 29 jemaat dan 4 Pos Pekabaran Injil, dengan wilayah pelayanan yang mencakup pesisir timur, barat hingga pedalaman pegunungan, memiliki tantangan pelayanan yang tidak ringan.

Namun demikian, pihaknya menyatakan keyakinan bahwa dengan semangat kebersamaan dan iman yang kokoh, seluruh tantangan tersebut dapat dihadapi oleh gereja bersama masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Buru Selatan, lanjutnya, memandang gereja sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah, khususnya dalam pembinaan moral, spiritual, serta penguatan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan kedamaian di tengah masyarakat.

Ia berharap hasil persidangan tahun 2026 dapat bersinergi dengan program pembangunan daerah, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ketahanan sosial masyarakat, serta pemberdayaan masyarakat di wilayah pesisir dan pegunungan.

Harapannya setiap keputusan yang dihasilkan benar-benar mencerminkan nilai-nilai iman serta membawa dampak positif bagi kehidupan bergereja, bermasyarakat, dan berbangsa.

Agenda Sidang Klasis turut dihadiri Wakil Bupati Buru Selatan Gerson E. Selsily, unsur DPRD Kabupaten, pimpinan OPD, Forkopimda, Pengurus AMGPM Daerah Buru Selatan, Forkopimcam, serta para pelayan gereja.

Peserta sidang Klasis GPM Buru Selatan tercatat berjumlah lebih dari 100 orang dari peserta Biasa dan Peserta Luar Biasa yang berasal dari 29 jemaat tersebar di wilayah pelayanan Klasis Buru Selatan.

Jalannya agenda sidang ke-62 Klasis GPM Buru Selatan berlangsung pada pukul 14.17 hingga berakhir tepat pukul 16.49 WIT dengan berbagai pembahasan strategis terkait arah pelayanan di Klasis Buru Selatan ke depannya. (MC)

Buru Selatan
Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Daerah Buru Selatan secara terpusat mencanangkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-93 AMGPM yang berlangsung di wilayah pelayanan Cabang I Talitakumi Jemata GPM Labuang, Jumat (6/3/2026). Momentum ini tidak sekadar seremoni, tetapi menjadi panggilan bagi seluruh kader untuk memperkuat iman, pelayanan, serta peran sosial di tengah masyarakat.

Ketua Daerah AMGPM Buru Selatan, Erens J. Tasidjawa, dalam pidatonya menegaskan bahwa perjalanan organisasi yang telah mencapai usia 93 tahun merupakan momentum penting menuju satu abad pengabdian AMGPM.

Ia menyampaikan bahwa gereja, pemerintah, dan pemuda memiliki peran yang saling melengkapi dalam pembangunan daerah.

“Kesatuan ini penting, di mana gereja membina iman, pemerintah menghadirkan kebijakan serta arah pembangunan, dan pemuda menjadi agen perubahan,” ujar Tasidjawa.

Mengusung tema “Ziarah Profetik AMGPM Menuju Seratus Tahun: Tekun Melayani Sesuai Kehendak Tuhan”, ia menjelaskan bahwa tema tersebut menjadi arah gerak organisasi untuk terus berjalan dalam kesadaran panggilan Tuhan, disertai disiplin, integritas, dan tanggung jawab moral.

Menurutnya, menuju usia satu abad AMGPM, tantangan utama adalah memastikan seluruh Cabang dan Ranting ranting tetap aktif serta kader terus bertumbuh dalam iman dan karakter.

“Firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak jemu berbuat baik. Itu berarti kita harus tetap tekun melayani meski dalam keterbatasan bahkan di tengah tantangan zaman,” katanya.

Pencanangan HUT ke-93 AMGPM di Buru Selatan dilaksanakan secara serentak di 38 ranting dan 8 cabang di seluruh wilayah pelayanan. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan berbagai aktivitas sosial dan pelayanan masyarakat.

Tasidjawa juga mengajak seluruh kader untuk menjaga solidaritas dan toleransi, terlebih karena rangkaian kegiatan berlangsung bertepatan dengan bulan suci Ramadan.

“Kita harus merawat persaudaraan lintas iman dan menciptakan suasana harmonis sebagai kekuatan dalam membangun kebersamaan hidup Kai Wait di Buru Selatan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa AMGPM siap menjadi mitra pemerintah daerah dalam membina generasi muda yang beriman, produktif, dan memiliki kepedulian sosial.

Sementara itu, Koordinator Wilayah AMGPM Buru–Buru Selatan, Sami Latbual, menegaskan bahwa pencanangan HUT AMGPM harus dimaknai sebagai momentum syukur atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan organisasi.

Menurutnya, AMGPM memiliki dua fungsi penting, yakni sebagai organisasi pemuda gereja sekaligus organisasi kepemudaan yang memiliki tanggung jawab sosial lebih luas.

“AMGPM harus memainkan peran strategis, baik untuk kemajuan gereja maupun dalam mendukung kebijakan pemerintah di setiap tingkatan,” jelas Latbual.

Ia juga mengingatkan para kader agar menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari sesuai motto AMGPM, “Kamu adalah Garam dan Terang Dunia.”

“Jika kita dipercaya menjadi guru, maka mengajarlah dengan sungguh-sungguh. Jika menjadi birokrat, bekerjalah dengan disiplin dan loyalitas. Itulah bentuk pelayanan kita,” tegasnya.

Latbual juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas daerah serta bijak dalam menggunakan media sosial, agar tidak memicu konflik yang merugikan organisasi maupun daerah.

Selain itu, ia mengungkapkan bahwa Kabupaten Buru Selatan akan menjadi tuan rumah Musyawarah Pimpinan Paripurna (MPP) AMGPM pada 2029 mendatang, sehingga seluruh kader diharapkan mulai mempersiapkan diri sejak sekarang.

“Kegiatan ini bukan hanya mempertaruhkan nama AMGPM Buru Selatan, tetapi juga wajah pemerintah daerah di mata Maluku dan Maluku Utara,” tandasnya.

Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Wendel Lesbassa, menilai momentum pencanangan HUT AMGPM menjadi ruang penting untuk memperkuat relasi kemanusiaan dan spiritualitas di tengah keberagaman masyarakat. 

Ia menyebutkan bahwa perayaan ini berlangsung dalam suasana religius yang beriringan dengan ibadah Ramadan bagi umat Muslim serta masa Minggu Sengsara bagi umat Kristen.

“Di sinilah kita dipertemukan dalam kesetaraan sebagai manusia. Relasi kita dengan Tuhan selalu diwujudkan dalam relasi kemanusiaan,” ujarnya.

Lesbassa juga menegaskan bahwa AMGPM sebagai organisasi kader berperan penting dalam menggerakkan potensi generasi muda gereja yang berusia 17 hingga 45 tahun.

"Untuk itu usia produktif ini harus di manfaatkan untuk pelayanan dan ikut terlibat aktif dalam arah pembangunan daerah," pungkasnya. 

Ditempat yang sama, Bupati Buru Selatan, La Hamidi, dalam sambutannya memberikan apresiasi atas pelaksanaan pencanangan HUT AMGPM secara serentak di seluruh wilayah Buru Selatan.

Menurutnya, perjalanan 93 tahun AMGPM merupakan bukti komitmen organisasi dalam membina generasi muda dan berkontribusi bagi kehidupan sosial masyarakat.

“Tema yang diusung tahun ini mengingatkan kita bahwa setiap perjalanan organisasi harus memiliki arah dan komitmen untuk melayani serta memberi manfaat bagi sesama,” kata La Hamidi.

Ia juga menilai berbagai kegiatan yang dilakukan AMGPM, seperti olahraga, aksi bersih lingkungan, hingga kegiatan sosial, menunjukkan kehadiran organisasi ini di tengah masyarakat.

Bupati turut mengingatkan pentingnya menjaga toleransi dan persatuan di Buru Selatan, terlebih kegiatan AMGPM berlangsung di tengah suasana bulan suci Ramadan.

“Buru Selatan dibangun atas nilai kebersamaan dan persaudaraan. Nilai itu harus terus kita jaga bersama agar pembangunan daerah berjalan dengan baik,” tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah daerah memandang AMGPM sebagai mitra strategis dalam membina sumber daya manusia yang beriman, berkarakter, dan peduli terhadap masyarakat.

"AMGPM adalah mitra Pemda dalam berbagai segi, " tutupnya. 

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pencanangan, AMGPM juga menyalurkan bingkisan sembako kepada para janda dan duda, yang ada di AMGPM Ranting Ebraun, Ranting Muan Modan, dan Ranting Tolot Lea.

Pencanangan perayaan HUT ke-93 ditandai dengan pengibaran bendera organisasi oleh Bupati, yang sekaligus menandai dimulainya rangkaian kegiatan di masing-masing Cabang maupun Ranting, yang diawali jalan santai dan senam bersama.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kepedulian sosial AMGPM sekaligus mempertegas komitmen organisasi untuk terus hadir ditengah lingkungannya.

Dengan semangat menuju satu abad pengabdian, seluruh kader AMGPM Buru Selatan diharapkan semakin solid, militan, dan konsisten dalam menjalankan panggilan pelayanan bagi Gereja, Masyarakat, dan Daerah. 

Pencanangan ini dihadiri juga oleh Sekretaris Daerah AMGPM Buru Selatan, Pdt. Y Pattinasarani bersama para pengurus daerah, sejumlah Pendeta, Pengurus Cabang I Talitakumi, pengurus dan anggota ranting AMGPM Muan Modan, AMGPM Ranting Tolot Lea serta AMGPM Ranting Ebraun.(MC)

Namrole, AMGPM
Bupati Safitri Malik Soulisa yang diwakili Staf Ahli bidang pemerintahan Abdul Gani Loilatu meresmikan Gedung Pastori I dan Gedung Kreativitas Anak SMTPI Jemaat GPM Labuang, Senin (19/12/2022).


Peresmian ini turut dihadiri Majelis Pekerja Harian (MPH) Klasis Bursel; Ketua Klasis Bursel, Pdt. Seles Hukunala, Ketua Majelis Jemaat GPM Labuang, Pdt. Herna R Lessil, perangkat pelayan majelis jemaat GPM Labuang, ketua Panitia pembangunan Gedung Pastori I, Y E Makatita, Ketua Peresmian Gedung Pastori I, Renaldi Solissa, pendeta dari jemaat GPM tetangga dan seluruh jemaat GPM Labuang.


Ketua Klasis Bursel, Seles Hukunala dalam arahannya mengatakan Pastori adalah tempat hunian para hamba Tuhan untuk bergumul dengan jemaat yang ia layani.


Untuk itu kebutuhan infrastruktur gedung Pastori ini sangat penting demi menunjang aktivitas pelayanan di dalam jemaat.


"Kita bersyukur bangunan ini bisa diresmikan. Sebagai ketua klasis kami berterima kasih kepada panitia pembangunan dan semua pihak yang membantu," ujar Hukunala.


Katanya, pastori jemaat akan menjadi tempat pelayanan serta terus menjadi tempat transaksi pastoralia tetapi juga tempat transaksi sosial.


Dikatakan demikian sebab dalam pembangunan gedung Pastori I Jemaat GPM Labuang ada saudara-saudara muslim yang turut terlibat sebagai bagian dari interaksi sosial.


"Ini aset GPM. Kami bersyukur karena jemaat Labuang sudah menyumbangkan satu buah infrastruktur bagi GPM," paparnya.


Hukunala berharap, gedung Pastori I yang dibangun ini mampu dan dapat digunakan sebagaimana mestinya demi memperlancar pelayanan di jemaat GPM Labuang.


"Kami berharap pastori ini dapat dimanfaatkan dengan baik demi kelangsungan pelayanan," harapnya.


Di samping itu juga dilakukan peresmian pembangunan gedung kreativitas Anak SMTPI jemaat GPM Labuang yang disiapkan sebagai kawasan belajar untuk menyiapkan skill dan meningkatkan pengetahuan anak-anak GPM.


"Gereja telah melihat ke arah situ. Ruang bermain anak harus di persempit oleh orang tua dan ruang belajar harus ditingkatkan supaya kualitas anak-anak kita bisa tampil dan mampu bersaing dengan anak-anak di daerah lain. Ini peran nyata gereja demi menciptakan generasi brilian bagi nusa dan bangsa," paparnya.

Di akhir arahannya, ia kembali berterima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu sehingga proses pembangunan gedung pastori I jemaat GPM Labuang bisa berlangsung dengan baik.


"Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu dalam bentuk materil maupun tenaga selama pembangunan pastori ini," tandasnya.


Sementara itu, Bupati Bursel, Safitri Malik Soulisa dalam sambutannya yang di bacakan Staf Ahli bidang pemerintahan, Abdulgani Loilatu mengatakan pembangunan pastori mesti mengandung makna turut serta dalam misi penyelamatan yang di emban oleh Gereja. 


Sejalan dengan hal tesebut, lanjut Loilatu, Pemda Bursel berharap, dengan hadirnya pastori representatif, tidak hanya dilihat sebagai icon sosial yang melengkapi keberadaan eksistensi Gereja, tetapi mesti dipahami sebagai lambang iman umat di jemaat GPM Labuang yang terekspresi melalui nilai-nilai kerja sama dan pengorbanan melalui keberadaan pastori ini supaya dapat memperlancar aktifitas pelayanan hamba Tuhan di jemaat. 


"Kita pasti merasa gembira dengan diresmikannya gedung pastori saat ini, namun demikian hal ini merupakan suatu unsur penunjang dalam melakukan tanggungjawab di dalam menata layani serta strategis dalam membina generasi gereja secara optimal, melalui pelayanan jemaat secara menyeluruh," sebutnya.


Pemerintah daerah berharap, dengan diresmikannya gedung pastori di jemaat ini, kiranya menjadikan motivasi tersendiri bagi pembangunan jemaat dalam mengembangkan pelayanan ke depan menuju arah yang lebih baik.


"Sebagai jemaat yang berada di kabupaten Bursel saya berharap, supaya seluruh jemaat di sini dapat membangun mental spiritual umat. Semoga Tuhan sumber kehidupan senantiasa memberikan bimbingan, perlindungan dan berkatnya atas segenap upaya yang kita lakukan bagi negeri Fuka Bipolo tercinta," tandasnya.

Acara selanjutnya dilakukan penandatangan sera terima sekaligus penyerahan kunci gedung Pastori I dari Ketua panitia pembangunan ke ketua Klasis Bursel, Pdt Seles Hukunala dan dilanjutkan ke ketua Majelis Jemaat GPM Labuang Pdt. Herna R Lessil.


Kemudian, Ketua Klasis Bursel,  Pdt Seles Hukunala, Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Abdulgani Loilatu, Ketua Majelis Jemaat GPM Labuang bersama Ketua Panitia Pembangunan melakukan peninjauan dalam gedung Pastori I dan gedung kreativitas anak SMTPI Jemaat GPM Labuang.


Acara di akhiri dengan makan bersama seluruh jemaat GPM Labuang. (Sumber: Orasirakyat.com)

Namrole, AMGPM
Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) menggelar perayaan Natal seMaluku - Maluku Utara, Selasa (6/12/2022).

Ketua Umum Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM), Melkianus Sairdekut dalam pesan Natal pada ibadah perayaan Natal AMGPM seMaluku - Maluku Utara menginginkan agar kader harus saling mendoakan.

"Memasuki usia 90 tahun, para kader harus saling mendoakan, mendukung setiap upaya inovatif dalam merawat kebersamaan," demikian disampaikan Sairdikut saat menyampaikan pesan Natal dalam perayaan Natal AMGPM se-Provinsi Maluku - Maluku Utara di Gedung Serbaguna Pemda Bursel.

Dalam wilayah Pelayanan, kata Sairdekut, AMGPM memiliki 1.174 Ranting, 237 Cabang dan 34 daerah yang tersebar di Maluku dan Maluku utara.

"Hari ini AMGPM Daerah Bursel begitu istimewa karena menjadi Lokus pelaksanaan perayaan Natal AMGPM se- Maluku - Maluku Utara," ucapnya.

Ia menuturkan, sebelum perayaan Natal ini berlangsung, Pengurus Besar AMGPM telah melakukan aksi berupa pelayanan sentuhan Natal kepada masyarakat di Dusun Walafau, Desa Wamkana, Kecamatan Namrole.

"Ini merupakan bagian dari aksi pelayanan nyata untuk mengawali perayaan Natal AMGPM yang dikemas dalam bentuk pengobatan gratis bagi warga Dusun Walafau," ungkapnya.

Ia berharap pelayanan kasih ini terus awet sehingga eksistensi dan pelayanan AMGPM terus terjaga di tengah-tengah masyarakat.

Sementara itu, Majelis Pekerja Harian Sinode GPM, Pdt. Lenny Bakarbessy dalam arahannya mengatakan bahwa kader AMGPM adalah sumberdaya GPM yang handal, penerus gereja dan masyarakat Maluku di masa depan.


Untuk itu tampilan dan aura AMGPM diharapkan semakin Berseri dan bersinar. Aura yang dimaksud adalah aura yang memberi harapan kepada semua kader, gereja dan masyarakat luas.

"Aura yang menegaskan kehadiran kader AMGPM diruang publik dalam budaya kesantunan dan kedewasaan. AMGPM bukan saja membentuk kader sebagai umat yang memiliki kecerdasan lahiriah tetapi juga kecerdasan batiniah," ucap Bakarbessy. 

Menurutnya, gereja butuh kader bukan saja cerdas akademik, memiliki karya-karya bereputasi, cekatan dan profesional dibidangnya, tetapi lebih daripada itu, AMGPM sebagai anak kandung GPM, harus menghidupi nilai dan budaya kekristenan dalam setiap budaya kristian yang bersifat ramah dan inklusif, merangkul dan memeluk perbedaan dalam ikatan orang Basudara atau kai wait masyarakat Bupolo.

"Sebab AMGPM adalah penopang pilar kebangsaan di Maluku dan Indonesia," paparnya.

Lanjutnya, di era teknologi Digital saat ini menuntut seluruh kader AMGPM untuk beradaptasi kritis untuk tetap relevan dengan kemajuan tanpa kehilangan identitasnya yang khas dan untuk menghadapi semua itu tentu AMGPM tidak bisa berjalan sendiri. 

"Kerjasama dan Kolaborasi perlu terus ditingkatkan, interkoneksitas merupakan formula yang sangat penting dan perlu di saat sekarang dan di masa yang akan datang," paparnya.

Di samping itu, spirit GPM menuju satu abad GPM di tahun 2035, AMGPM harus menjadi organisasi pemuda gereja yang semakin menambah potensi sumberdaya umat/ masyarakat di Maluku yang menjadi kekuatan baru, YANG memiliki potensi, kreatif, inovatif yang dapat berkolaborasi dengan semua elemen demi peningkatan kualitas hidup masyarakat maluku dan menjadi kontribusi GPM bagi Maluku Dan Indonesia di masa depan. 

"Karena itu kami harus menyampaikan terimakasih kepada bung ketua dan seluruh rekan-rekan pengurus besar atas program peningkatan sumberdaya manusia melalui kegiatan relawan mengajar di daerah rawan mutu pendidikan dan minim tenaga pendidik, pemberdayaan ekonomi kreatif melalui bantuan-bantuan modal di daerah-daerah, cabang-cabang dan ranting - ranting," ucapnya.

"Karya-karya kecil itu akan berbuah kebaikan kelak, tetap dijaga dan dikembangkan," tandasnya.

Sementara Wakil Bupati Bursel dalam sambutannya mengatakan Natal memberikan curahan berkat untuk itu AMGPM diajak terus berkontribusi dalam mendukung progres pembangunan di Buru Selatan.

"AMGPM harus terlibat memberikan kesejahteraan bagi segenap umat kristiani sekaligus memberikan semangat dan harapan baru untuk membangun kerja sama dalam setiap pelayanan bagi masyarakat," pungkasnya.


Sementara Ketua Panitia Pelaksana, Orpa Anselany Seleky berterima kasih kepada semua kader dari jenjang ranting hingga pengurus besar yang sudah terlibat demi suksesnya acara Perayaan Natal AMGPM Maluku - Maluku Utara.

"Terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah bersumbangsih baik moril maupun materil dalam pelaksanaan perayaan natal AMGPM. Semoga Tuhan Yesus kepala AMGPM memberkati kita semua," tutupnya.


Perayaan natal ini dihadiri oleh pengurus Besar AMGPM, MPH Sinode, Pengurus Daerah kota Ambon, Pulau Ambon dan Pulau Ambon Timur, daerah Buru Utara dan Buru Selatan.


Hadir juga, anggota DPR RI, Mercy C Barends, Pimpinan dan anggota DPRD Bursel, Kapolres Bursel, pimpinan OPD, organisasi pemuda didominasi gereja dan organisasi pemuda lainnya.


Dalam perayaan kali ini, pelayan firman dibawakan oleh Prof. J. Ruhulesin. (MC)

Namrole, AMGPM - Guna memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Pekabaran Injil (PI) Jemaat GPM Labuang Menggelar Konser PI Tahun 2022.


Konser yang begitu meriah ini berlangsung di depan Gereja Wae Fuhan Prangit (Mata Air Penyeru) Jemaat GPM Labuang, Senin (31/10/2022) malam.


Terpantau, acara ini semakin meriah ketika Master of Ceremony (MC) Vensca Matahelumual  memandu jalannya konser PI dan Aresn Solissa bertindak sebagai Song Leader.


Acar konser diisi dengan berbagai rangkaian acara yang melibatkan semua pihak, mulai dari seruling yang berasal dari gabungan warga Jemaat GPM dari Kecamatan Fena Fafan, atraksi cakalele paduan suara dan dance dari anak-anak SMTPI Jemaat GPM Labuang, paduan suara dari unit-unit pelayanan yang ada di jemaat GPM Labuang, Vokal Group dari Mahasiswa KKN UKIM dan juga ada keterlibatan dari gereja-gereja saudara yang ikut memeriahkan acara tersebut.


Acara konser ini diselingi dengan Ibadah yang dipimpin Pdt. B Lesnussa, dan ditutup dengan Doa Syafaat dan berkat oleh Ketua Majelis Jemaat GPM Labuang, Pdt. H. R. Lessyl. 


Sekedar diketahui, malam Konser PI Jemaat GPM Labuang Tahun 2022 adalah Program pertama Jemaat GPM Labuang yang baru pertama dilakukan.

Dalam Konser PI ini juga dibacakan selayang pandang perjuangan Klasis GPM Buru Selatan melakukan PI yang dimulai dari 3 penginjil yang diutus pada tahun 1950 untuk memenangkan jiwa-jiwa. Selayang pandang ini juga menguraikan tentang perjalanan Tim Rasul Paulus tahun 1950 sampai tahun 1959 dan terjadinya baptisan pertama kepada kepala Soa Waetemun dusun Wamsoba, Guling Nurlatu.


Tim Rasul Paulus ini terdiri dari 3 orang yakni penginjil Jhon Sahetapy, penginjil Alexander Seleky dan penginjil Botis Hukunala.


Upaya menabur injil dilalui dengan berbagai rintangan namun terus dilakukan dan seiring bergantinya penginjil satu ke penginjil lain, saat ini injil tetap berada di bumi Buru Selatan. (Sumb: Kompastimur.com)

AMGPM, Dabursel
Menjelang Pelaksanaan Operasi Zebra, Kepolisian Resor Buru Selatan (Polres Bursel) bersama AMGPM Daerah Bursel (Dabursel) melakukan sosialisasi lalu lintas Kepada Para Pengendara maupun pengojek di kota Namrole baru-baru ini.


Selain sosialisasi, Polres Bursel dan Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Dabursel juga melakukan pembagian helm  kepada pengendara agar wajib menggunakan helm saat berkendara.


Pihak Kepolisian Polres Bursel melakukan sosialisasi lalu lintas kepada pengendara maupun pengojek agar wajib menggunakan helm, memiliki surat ijin mengemudi termasuk perlengkapan kendaraan lainnya.

Sosialisasi ini dilakukan sebelumnya agar masyarakat mengetahui pelaksanaan operasi kendaraan yang akan dilakukan pihak kepolisian kedepannya.


Ketua Daerah AMGPM Bursel, Dominggus Seleky mengatakan kegiatan ini sebagai bentuk perhatian seriuS AMGPM untuk mendukung Polres Bursel dalam mensosialisasikan tertib berlalu lintas.


Dijelaskan pelaksanaan sosialisasi dan pembagian helm juga merupakan dukungan moral kepada masyarakat yang berpenghasilan menengah kebawah ditengah dampak kenaikan harga bahan bakar minyak atau BBM.

Sementara, Wakapolres Bursel Kompol Noovy Sapulette mengatakan tujuan sosialisasi ini tentu menjadi langkah untuk diketahui masyarakat termasuk pengendara yang berkendara wajib mengikuti arahan sosialisasi yang disampaikan pihak kepolisian.


Kegiatan ini turut dihadiri PS Kasat Lantas Polres Bursel, Iptu Orgenes A. Peilouw. (MC)

Namrole,  AMGPM Dabursel
Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Daerah Buru Selatan (Dabursel) resmi memiliki Koperasi yang bergerak di usaha penjualan bahan sembako.

Hadirnya koperasi yang diberi nama 'Sasi Tu Glinan' ini menandakan kemajuan AMGPM Dabursel sekaligus menjawab program organisasi.

Menurut Ketua AMGPM Dabursel, Dominggus Seleky, usaha ini turut menjawab gumulan GPM terkait membangun Gereja yang memiliki ketahanan dan daya juang demi kualitas hidup bersama di Tengah pergumulan pandemi Covid-19 dan transformasi digital.

Lanjut Seleky, Koperasi Sasi Tu Glinan hadir untuk menciptakan lapangan kerja bagi kader sekaligus menjawab kebutuhan anggota AMGPM maupun masyarakat secara luas.

"Kita membangun koperasi ini bukan untuk menjadi kuat, tetapi untuk menjawab semua kebutuhan yang ada di daerah dalam ber-AMGPM," ujar Seleky dalam sambutannya saat peresmian Koperasi Sasi Tu Glinan di Penginapan Cande Modat, Desa Labuang, Kecamatan Namrole, Kabupaten Bursel, Rabu (07/9/2022).

Ia menjelaskan, kehadiran Koperasi Sasi Tu Glinan juga untuk memperkuat organisasi dari segi ekonomi dan finansial. Sebab jika melihat kondisi ekonomi nasional saat ini yang berdampak ke  seluruh sektoral, koperasi menjadi salah satu solusi bagi AMGPM Dabursel untuk mematangkan semangat dalam upaya pemberdayaan bagi para kadernya.

"Tentu upaya ini dapat memberikan manfaat dan peluang, selain bagi para kader tetapi juga untuk organisasi dan kemaslahatan umat dalam meningkatkan kesejahteraan," terang Seleky.

Di samping itu, dalam upaya pengembangan usaha Koperasi tentu perlu memiliki integritas sebagai kualitas terpenting dalam suatu konsep usaha yang berkaitan dengan perilaku, nilai dan prinsip yang jujur dan kuat.

"Maka dengan konsep ini akan menjadi dorongan bagi pemberdayaan yang efektif dan efisien bagi para kader AMGPM di Dabursel," paparnya.

Lebih jau Seleky menjelaskan, setiap kader diarahkan dan dibimbing menjadi figur yang lincah, dalam artian figur yang memiliki karakter cekatan yang selalu bergerak dan tidak tinggal diam serta mampu melihat peluang usaha. 

Kelincahan yang dimaksudkan agar AMGPM Dabursel serta Pengurus Koperasi Sasi Tu Glinan bisa beradaptasi dengan kondisi di setiap perkembangan serta mampu menjawab gumulan kader, baik dari tingkatan pendidikan, profesi pekerja serta tantangan alam dan iklim.

Seleky menambahkan, selain usaha sembako, koperasi Sasi Tu Glinan kedepannya akan menyesuaikan pola potensi sumber daya alam yang berada di masing-masing wilayah pelayanan sebagai produk unggulan yang nantinya akan didistribusikan ke pasar global.

"Setelah ini kita akan merambat pada sektor-sektor usaha lain. Diantaranya akan memberdayakan sumber daya alam yang ada di wilayah pelayanan dan mendistribusi sumber daya alam itu ke pasar Global," tutur Seleky penuh optimis.

Di kesempatan itu, Seleky berharap semua potensi AMGPM Dabursel dapat mendukung dan mensupport Koperasi Sasi Tu Glinan yang sudah di gagas oleh AMGPM Dabursel.

"Keberlangsungan Koperasi ini tidak lepas dari peran semua pihak. Untuk itu dukungan dan support dari seluruh potensi AMGPM sangat diperlukan," tandasnya. (MC)

AMGPM, Bursel
Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku Daerah Buru Selatan (AMGPM Dabursel) dalam minsednya berupaya merubah pola pikir pemuda, dimana pemuda tidak hanya berorientasi sebagai ASN atau PTT namun di ajak menjadi wirausaha dalam pengembangan pangan lokal sebagai potensi alam yang diberdayakan untuk pembiayaan kelembagaan maupun meningkatkan pendapatan kadernya. 


Gagasan untuk mengelola potensi pangan lokal bagi kader AMGPM Daerah Buru Selatan tengah diwujudkan wadah AMGPM.  Langkah ini ditempuh melalui pemberdayaan Kader dalam pengelolaan pertanian pangan lokal di Cabang maupun masing-masing ranting.


Dengan melibatkan Kader AMGPM ditingkat Ranting maupun Cabang dalam usaha pengembangan pangan lokal, Pengurus Daerah dalam keputusan MPPD ke-26 berinisiasi memberdayakan lahan kosong menjadi lahan pertanian yang bermanfaat bagi organisasi dan para kadernya. 


Melalui pola ini Angkatan Muda di tingkat Ranting maupun Cabang dibina untuk menjadi wirausaha yang baik dengan memanfaatkan potensi alam sekitar, tidak hanya pada sektor pertanian tapi juga dimanfaatkan potensi pada sektor perikanan dan kelautan.

Ketua Daerah AMGPM Buru Selatan, Dominggus Seleky mengatakan kader AMGPM diarahkan untuk mengembangkan potensi alam baik pada sektor Perikanan maupun Pertanian untuk dapat dikelola dengan baik.


Upaya ini tentu memberikan nilai positif terhadap penguatan pembiayaan kelembagaan.


Seleky mengungkapkan, untuk pengembangan pangan lokal seperti tanaman ubi talas atau keladi telah menjadi komoditi andalah di Ranting Getsemani Waehaolon Cabang V Betlehem.


"Upaya pengembangan pangan lokal ini telah dicanangkan dengan nama 'Keladi Obor' sebagai komoditi yang didistribusikan secara berjenjang kepada Pengurus Besar AMGPM di Ambon," ucap Seleky, Minggu (24/4/22).


Pencanangan ini disampaikan saat usai pelantikan Panitia MPPD ke-27, Pelantikan Panitia PKJM, dan Relawan Mengajar di Gedung Gereja Neten Salawatu-Waehaolon, Minggu pagi.


"Rencana pengembangan ini pula dijadikan sebagai tonggak kebangkitan AMGPM dalam memberdayakan kadernya termasuk umat di Jemaat," paparnya.


Seleky mengajak seluruh kader AMGPM di Daerah Buru Selatan untuk berkolaborasi menyukseskan target ini sebagai cara menjawab Sub Tema GPM yakni "Membangun Gereja yang Memiliki Ketahanan dan Daya Juang Demi Kualitas Hidup Bersama di Tengah Pergumulan Pandemi Covid 19 dan Transformasi Digital".

Dalam agenda Pencanangan Keladi Obor dan rangkaian pelantikan disisipkan juga kegiatan penanaman ratusan anakan keladi, bibit tanaman hortikultura dan sayuran bersama Potensi Ranting Se-Cabang V Betlehem. 


Turur hadir dalam kegiatan itu Ketua Bidang IV Bung Erens Tasidjawa, Sekretaris Bidang I Bung Stevano Kailola, Sekretaris IV Bung Rivano Latuwael, Bendahara Daerah Bung Ampi Teslatu dan Bendahara II Usi Novi Luturmas, Ketua Majelis Jemaat Waehaolon Pdt. Ny. J. Lopulalan/T, S.Si Teol, Pdt. Y. Hattu, S.Si bersama Pengurus Cabang V Betlehem. (MC)

AMGPM, Bursel
Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Cabang I Talitakumi, Daerah Buru SELATAN (Dabursel) menggelar Musyawarah Pimpinan Paripurna Cabang (MPPC) di Gedung Gereja Jemaat GPM Ebenhaezer Waetina, desa Namrinat, Minggu (20/2/22).

Akta penyelenggaraan kegiatan ditandai dengan pembakaran lilin dan penaburan garam oleh Ketua AMGPM Cabang I Talitakumi, Roby Tasidjawa.

Kegiatan kemudian dibuka oleh Ketua Daerah AMGPM Dabursel, Dominggus Seleky dan dihadiri sejumlah pengurus daerah, pengurus cabang, perutusan 7 ranting, sekretaris Camat Namrole, Exevisio, KMJ, senioritas AMGPM, dan sejumlah tamu undangan lainnya.

Ketua Daerah, Dominggus Seleky dalam pidatonya mengapresiasi kegiatan tersebut.

"Saya mengapresiasi kegiatan ini dan saya harap kegiatan ini dapat dimaksimalkan oleh semua unsur dalam tanggung jawab membangun gereja dan pemuda khususnya di kabupaten Bursel," ucap Seleky.


Katanya, AMGPM sebagai organisasi Gereja harus bisa membawa pemuda gereja yang mampu bersaing dalam era digital saat ini.

"Sebagai Pemuda gereja kita harus siap dalam menghadapi perkembangan teknologi yang begitu cepat. Ini harus dimaknai oleh pemuda gereja dalam menghadapi gumulan kedepan yang sangat berat, untuk itu AMGPM sebagai wadah tunggal pembinaan bagi pemuda GPM, harus mampu membentuk SDM AMGPM yang kreatif," ujarnya.


"Di era digital, kita diajak jangan kehabisan akal, namun mampu menciptakan lapangan kerja baru dalam segala aspek. Kita harus memahami bahwa manusia yang harus mengatur teknologi bukan sebaliknya," sambungnya.


Selain peran AMGPM dalam menciptakan lapangan kerja, AMGPM juga harus merangkul semua kader untuk sama - sama ada dalam agenda menjawab problem pemuda dalam ber-gereja yang utuh.

"AMGPM adalah bagian integral dari Gereja. AMGPM harus mampu berperan menciptakan lapangan kerja demi mengurangi angka kemiskinan," paparnya.


Dia berharap, ditengah kondisi keamanan Maluku yang sedikit mengalami guncangan, AMGPM diminta tidak mudah terprovokasi dengan konflik yang terjadi di berbagai daerah. AMGPM harus mampu menerjemahkan kondisi itu dengan tidak menyebarkan isu - isu yang belum pasti kebenarannya.

"Menyikapi kondisi saat ini, AMGPM harus disiplin menerapkan prokes kesehatan. AMGPM diwajibkan memaksimalkan media sosial untuk memberikan dan menyampaikan kabar baik bagi orang lain dan tidak muda terprovokasi dengan isu - isu yang berasal dari sumber yang tidak jelas," pungkasnya.

Sekretaris Camat Namrole, Ahmad Thio dalam sambutannya mengharapkan AMGPM dapat meningkatkan kapasitas kader dan menjujung sikap pro aktif dalam pembangunan daerah.


"Pemerintah berharap AMGPM mampu meningkatkan kualitas kader dan dapat membantu pemerintah dalam membina pemuda di Bursel khususnya dalam lingkup AMGPM Cabang I Talitakumi," ucap Thio.

Ia menjelaskan, dalam membangun mental dan moral pemuda, pemerintah tidak bisa melakukannya sendiri maka dibutuhkan stakeholder lainya termasuk AMGPM sebagai organisasi gereja.


"AMGPM dituntut menjadi organisasi yang mampu dan mandiri dalam menghadapi problematika kehidupan. Mampu bersaing dan ikut serta menyukseskan program - program pemerintah," tandasnya.


Sementara Ketua Cabang I Talitakumi, Roby Tasidjawa mengharapkan, kegiatan MPPC yang dihadiri seluruh kader AMGPM dari 7 ranting ini bisa menghasilkan program-program strategis guna pengembangan AMGPM ke depan.

"MPCC diharapkan dapat menghasilkan program-program strategis demi mengembangkan AMGPM ke depan. Sebagai kader, kita harus dan dapat mengembangkan diri dan mampu mengoptimalkan potensi-potensi yag ada dengan tetap mengedepankan rasa toleransi," ucap Tasidjawa.


Sebagai anak kandung GPM, tentunya AMGPM memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugas-tugas gereja. Baik itu tugas yang berkaitan dengan manajemen organisasi maupun tugas-tugas yang berkaitan langsung dengan pelayanan.

"Untuk itu AMGPM dituntut agar memiliki ketahanan iman, Iptek, sosio ekonomi, sosio budaya dan sosio politik untuk mewujudkan tanggungjawabnya dalam kehidupan bergereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara," imbuhnya..


Dalam kesempatan itu, Tasidjawa juga menyampaikan terima kasih kepada pengurus Daerah dalam tugas dan pendampingannya, ketua-ketua majelis jemaat, pembina dan penyantun, pemerintah desa, para donatur, seluruh anggota ranting dan seluruh pihak teristimewa kepada panitia MPPC ke IX yang sudah bekerja keras demi suksesnya kegiatan MPPC ke IX di Jemaat Ebrnhaezer Waetina.


Sementara pendeta Buce Lesnussa sebagai Exevisio menandaskan bahwa sepanjang AMGPM diperhadapkan dengan persoalan, maka AMGPM harus selalu meminta pertolongan dari Tuhan.

Ia juga berharap, kader AMGPM dalam mengikuti MPPC, tidak menjadikannya sebagai ajang untuk berdebat yang tidak ada ujungnya.

"Kita harus menjadikannya sebagai tempat kita bersepakat, bergumul dan menyampaikan semua pikiran yang bersifat membangun dalam menghadapi perkembangan problematika ber-AMGPM ke depan," ujarnya.


"AMGPM harus mampu melihat polemik dan perubahan-perubahan transformasi virtual. Untuk itu AMGPM harus hadir dan menunjukkan bahwa AMGPM memiliki kapasitas yang mumpuni dalam menghadapi semua problematika," sambungnya.

Lesnussa menambahkan, hasil dari MPPC ini, harus dimaknai oleh kader AMGPM dalam menterjemahkan arti dan nilai dalam menetapkan program-program yang memberdayakan kader AMGPM dalam konteks kehidupan bermasyarakat, dan bernegara.


"Bermusyawarahlah dengan baik, tuangkan semua ide, kreatifitas, dan pikiran - pikiran membangun yang dapat menunjang dan menunjukan bahwa kapasitas dan kapabilitas AMGPM tidak bisa diragukan," tandasnya.

Dalam MPPC ke IX ini, telah dilahirkan 7 Surat Keputusan, 11 Program, 20 Kegiatan dan 7 rekomendasi. (MC)

Cari Website Ini


Cari Ayat Alkitab


Ketik kata atau ayat:

Alkitab Bahan

Berita Daerah AMGPM

Seputar AMGPM

Sering Di Baca

Total Pageviews

Site Archive