Baca Juga
Saparua - Klasis GPM Buru Selatan mendorong penguatan pola pelayanan melalui pertukaran pengalaman dan sumber daya lintas klasis. Langkah ini dinilai penting untuk menjawab perbedaan konteks pelayanan gereja, khususnya antara wilayah kontinental Buru Selatan dan karakter pelayanan laut-pulau di Kepulauan Lease.
Gagasan tersebut disampaikan Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pendeta Wendhel F. Lesbassa, saat membuka Rapat Konsultasi Semester I Klasis GPM Buru Selatan di Klasis GPM Pulau-Pulau Lease, Saparua, Jumat (7/8/2026).
Turut hadir dalam agenda tersebut Ketua Klasis GPM Pulau-Pulau Lease, Pdt. Jhon Malle, Sekretaris Klasis GPM Pulau-Pulau Lease, Pdt. Roy Mail, Sekretaris Klasis GPM Buru Selatan Pdt. S. M. Redjo, Ketua Daerah AMGPM Buru Selatan, Erens Jani Tasidjawa, serta Ketua Daerah AMGPM Pulau-Pulau Lease Jenly Latuihamallo.
Dalam arahannya Lesbassa mengatakan, pelaksanaan rapat konsultasi di Klasis GPM Pulau-Pulau Lease merupakan bagian dari upaya memperkuat semangat kebersamaan, saling belajar dan berbagi sumber daya antarjemaat maupun antarklasis dalam menjalankan pelayanan GPM.
Menurutnya, kedua wilayah memiliki tantangan pelayanan masing-masing. Buru Selatan berada dalam konteks kontinental dengan karakter gunung, lembah dan sungai. Dalam praktiknya, pelayanan juga dihadapkan pada perjalanan laut, cuaca dan ombak. Sementara Pulau-Pulau Lease berada dalam konteks laut-pulau dengan dinamika geografis serta karakter sosial masyarakat yang khas.
Perbedaan konteks tersebut, kata Lesbassa, harus menjadi ruang pembelajaran bersama. Pelayanan GPM tidak cukup hanya dipahami dari pengalaman masing-masing wilayah, tetapi perlu diperkuat melalui pertukaran pengalaman antarkonteks pelayanan.
“Dalam semangat ini kita saling belajar, kita akan terus dimampukan untuk berkarya dan melayani di Gereja Protestan Maluku,” ujar Mantan Ketua Klasis Buru Utara.
Ia menegaskan, semangat tersebut sejalan dengan upaya menjalankan prakarsa desentralisasi untuk menjawab pergumulan bersama sebagai gereja. Karena itu, pengalaman pelayanan di wilayah lain perlu dilihat sebagai sumber pembelajaran dalam menyusun pola dan perencanaan pelayanan GPM.
Lesbassa juga menyinggung sejarah panjang Klasis GPM Pulau-pulau Lease yang pada 2026 memasuki persidangan ke-98. Usia tersebut bahkan lebih tua dibandingkan GPM yang pada tahun yang sama memasuki usia ke-91.
Pilihan Klasis GPM Buru Selatan menggelar Rapat Konsultasi di Lease juga dilatarbelakangi semangat untuk saling belajar dan berbagi pengalaman.
Pertukaran pengalaman dengan klasis yang memiliki sejarah panjang dinilai dapat memperkaya pemahaman dan praktik pelayanan.
“Kita datang bukan untuk saling menggurui tetapi saling belajar dan berbagi pengalaman dalam memperkuat komitmen sebagai pelayan GPM,”tutur mantan Ketua Daerah AMGPM Buru Utara.
Rapat Konsultasi Klasis sendiri merupakan bagian dari amanat Peraturan Pokok GPM tentang Klasis, terutama dalam menjabarkan keputusan-keputusan sinodal dan klasis ke dalam pelaksanaan pelayanan di tingkat klasis dan jemaat.
Dalam kesempatan tersebut, Lesbassa menyampaikan apresiasi kepada MPK Klasis GPM Pulau-Pulau Lease dan jemaat-jemaat yang menjadi tuan rumah atas pelayanan selama rombongan Klasis GPM Buru Selatan berada di Saparua.
Ia menyebut, terdapat 27 jemaat dalam Klasis GPM Pulau-pulau Lease, dengan 15 jemaat berada di Pulau Saparua. Selama berada di wilayah tersebut, rombongan Klasis GPM Buru Selatan juga dijadwalkan melakukan kunjungan ke sejumlah lokasi wisata, termasuk Bentemg Duurstede dan salah satu sentra produksi sempe tradisional serta melaksanakan pergumulan bersama di Gereja Zebaoth, Jemaat GPM Saparua-Tiouw.
Lesbassa meminta seluruh anggota MPK dan para Ketua Majelis Jemaat Klasis GPM Buru Selatan mengikuti rapat konsultasi secara serius, terutama dalam merumuskan langkah pelayanan yang dapat menjawab pergumulan bersama.
Rapat Konsultasi Semester I Klasis GPM Buru Selatan kemudian dibuka dengan penegasan kembali komitmen pelayanan berdasarkan moto GPM Buru Selatan, Aku Menanam Apolos Menyiram, Tetapi Allah Yang Memberi Pertumbuhan "Yako Seka, Apolos Tofa, Opolastala Ya Huke Enewet."
(Tim Redaksi)
Namrole - Dari Namrole Sabtu, 25 April 2026 pukul 10.30 WIT, perjalanan dimulai menembus jalan berdebu, menyusuri lekuk waktu yang perlahan bergerak, hingga tiba di Nafrua sekitar pukul 13.20 WIT. Jalan panjang yang berdebu beterbangan di siang hari tetapi dilalui pula dalam guyuran hujan pada perjalanan kembali. di kiri-kanan terbentang seperti lukisan Sang Pencipta, pohon minyak kayu putih berjejer rapi, riuh riang-riang bersahut, menyambut kehadiran rombongan yang berjibaku melewati jalur ekstrem dan sungai yang menghadang. Perjalanan yang perlahan menuntun rombongan tiba di satu perjumpaan bersama umat pegunungan pulau buru yang telah lama dirindukan.Setibanya di tanah Nafrua, di pelukan alam kaku Bipolo yang terbentang hijau, tabuhan tifa menggema dengan tarian adat Buru oleh umat di Nafrua yang bersorak sukacita menyambut kehadiran para Geba Sniuk. Ifutin dikenakan kepada Wakil Ketua I MPH Sinode GPM, Pendeta. Riko Rikumahu bersama Ketua Klasis Buru Selatan Pendeta. Wendhel F. Lesbassa dan Sekretaris Klasis Pendeta. Sammy M. Redjo, menghadirkan rasa yang merangkul semua geba sniuk yang hadir dalam kebersamaan yang indah, melalui sambutan yang menegaskan bahwa perjalanan panjang itu berakhir dalam kehangatan persekutuan yanh utuh.
Dari suasana penyambutan itu, rangkaian pelayanan berlanjut pada prosesi ibadah pemekaran dan pelembagaan yang dilaksanakan pada Minggu, 26 April 2026. Ibadah pemekaran berlangsung di Gereja Petra Jemaat GPM Batu Karang yang dipimpin oleh Pendeta. Glen Huwae, sementara akta pemekaran diserahkan oleh MPH Sinode GPM, menandai dimulainya babak baru dalam perjalanan jemaat.
Usai ibadah, pelayan dan umat berlanjut menuju Jemaat GPM Nafrua, langkah demi langkah berjalan dalam satu arah yang sama, seakan merajut kisah bahwa ziarah iman tidak pernah ditempuh sendiri, melainkan dalam kebersamaan yang saling menguatkan hingga benar-benar melahirkan Nafrua sebagai persekutuan yang terus bertumbuh.Ibadah pelembagaan kemudian dipimpin oleh Pendeta. Riko Rikumahu, yang dalam khotbahnya menegaskan bahwa kehadiran gereja harus nyata dalam kehidupan umat.
“Gereja tidak hanya berdiri sebagai institusi, tetapi harus menghadirkan tindakan penyelamatan bagi umat di tengah pergumulan hidup,” tegasnya, menautkan pesan pelayanan dengan realitas kehidupan jemaat sehari-hari.Peneguhan Ketua Majelis Jemaat GPM Nafrua, Penginjil. Jemris Latuwael, dilakukan oleh Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pendeta Wendhel F. Lesbassa, yang kemudian dilanjutkan dengan penyerahan Jemaat GPM Nafrua dari Klasis Buru Selatan kepada Klasis Buru Utara, dan diterima oleh Ketua Klasis GPM Buru Utara, Pendeta. Herfin Yandres Siahaya, menandai peralihan tanggung jawab pelayanan dalam satu kesatuan tubuh gereja.
Dalam sambutannya, Pendeta Wendhel F. Lesbassa menegaskan bahwa pelembagaan ini merupakan amanat Persidangan ke-39 Sinode GPM tahun 2025. Ia kemudian melanjutkan dengan ungkapan syukur dalam bahasa daerah sebelum menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam proses panjang pelayanan tersebut.
Lesbassa menyampaikan terima kasih kepada MPH Sinode GPM, para pendeta se-Klasis, tokoh adat, hingga Jemaat GPM Batu Karang yang setia mengawal pelayanan sejak awal Pekabaran Injil tahun 2019, yang diawali dengan baptisan 36 orang hingga berkembang dari Pos PI menjadi Sektor PI, sampai akhirnya dilembagakan.Sementara itu, dalam arahannya, Wakil Ketua I MPH Sinode GPM, Pendeta Riko Rikumahu, mengingatkan bahwa pelayanan harus terus dijalankan dengan kesungguhan dan kedekatan dengan umat.
“Ketua Majelis Jemaat yang baru diteguhkan harus hadir di tengah umat, berjumpa dengan mereka, mendengar mereka, dan melayani dengan hati,” tegasnya, meneguhkan arah pelayanan ke depan.Seluruh rangkaian ini kemudian bermuara pada satu pemahaman bersama bahwa Nafrua bukan hadir secara tiba-tiba, melainkan lahir dari proses panjang, dari perjumpaan yang terus dirawat, dan dari iman yang tidak berhenti berjalan, ziarah yang kini menemukan bentuknya dalam kehidupan jemaat yang terus bertumbuh. (MC)
Namrole - Majelis Pekerja Klasis Buru Selatan menggelar Training of Trainers (TOT) Penataran Majelis Jemaat Tahun 2026 yang diikuti para pendeta, penginjil, penatua, dan diaken. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut amanat Persidangan ke-62 Klasis GPM Buru Selatan tahun 2026.
Ketua Klasis Buru Selatan, Pdt. W. F. Lesbassa, dalam arahannya mengajak seluruh pelayan untuk mensyukuri panggilan pelayanan. "Kita bersyukur karena pelayanan ini terjadi hanya oleh kasih dan kemurahan Tuhan," ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya kesadaran iman para pelayan. "Tuhan adalah pemilik gereja yang akan terus memampukan kita dalam menjalankan tugas pelayanan di tengah jemaat. Iman dan pengharapan kita adalah iman yang hidup," katanya.
Ia menjelaskan, penataran ini bertujuan menata tugas pelayanan gereja, menertibkan perangkat pelayan dan organisasi, serta membangun tata kelola yang baik. "Kita ingin pelayanan gereja berjalan tertib, baik dari sisi manajemen maupun pengelolaan harta milik," tambahnya.
Selain itu, ia juga menekankan komitmen 3T sebagai spirit pelayanan. "Tertib administrasi, tertib keuangan, dan tertib pelayanan harus menjadi dasar dalam setiap tugas pelayanan kita," tegasnya.
Kegiatan TOT Penataran Majelis Jemaat dilaksanakan secara bertahap di empat rayon. Rayon Timur berlangsung di Jemaat GPM Waenono-Kamlanglale pada 22–24 April 2026.Selanjutnya, kegiatan dilaksanakan di Rayon Pegunungan di Jemaat GPM Waekatin pada 28–30 April, Rayon Barat di Jemaat GPM Waeturan pada 3–5 Mei, serta Rayon Pusat Klasis di Jemaat GPM Leksula pada 6–8 Mei 2026.
Ketua Klasis juga menyampaikan apresiasi kepada Majelis Jemaat, pelayan, dan umat di Jemaat GPM Waenono-Kamlanglale. "Terima kasih atas dukungannya sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan sukses," ucapnya.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah fasilitator, yakni Pdt. Ny. J. Talahatu selaku Kepala Bagian Personalia Sinode GPM, Ketua Klasis Buru Selatan Pdt. W. F. Lesbassa, serta Sekretaris Klasis Buru Selatan Pdt. S. M. Redjo.
Di akhir arahannya, ia menegaskan pentingnya keseriusan peserta dalam mengikuti kegiatan. "Ini adalah forum pembelajaran bersama, bukan evaluasi. Karena itu, saya minta semua peserta fokus dan sungguh-sungguh selama kegiatan berlangsung," tutupnya. (MC)
Buru Selatan - Sidang ke-62 Klasis GPM Buru Selatan yang berlangsung di Jemaat Namrinat, Minggu (22/03/2026), menyoroti peran gereja dalam merespons berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat, sekaligus mendorong penerapan tertib administrasi, tertib keuangan, dan tertib pelayanan (3T).
Kegiatan dimulai dengan ibadah pada pukul 09.00 WIT yang dipimpin oleh Pdt. H. D. Behuku sebagai pemimpin liturgos dan Pdt. R. Parera sebagai pelayan firman, dari pembacaan Injil Matius 27:11-26 melalui tema mingguan "Bertanggungjawablah Demi Keadilan, Jangan Cuci Tangan."
Dalam rangkaian pembukaan sidang, Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pendeta Wen Lesbassa, menyampaikan pokok pikiran pelayanan gereja yang menekankan relasi kemanusiaan, tanggung jawab iman, serta peran gereja dalam menjawab dinamika sosial.
Lesbassa mengatakan momentum persidangan tahun ini dinilai memiliki makna karena berlangsung bersamaan dengan Minggu Sengsara Kristus ke-6 sebagai karya penebusan Allah di dalam Kristus dan perayaan Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah oleh umat Islam sebagai simbol kemenangan iman.
"Atas nama warga GPM se-Klasis Buru Selatan, kami menyampaikan Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin, selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri," ujarnya.
Menurutnya, kedua momentum tersebut menegaskan bahwa beragama adalah pemenuhan relasi Ilahi melalui relasi kemanusiaan, di mana manusia berjumpa sebagai sesama yang setara dan sebagai saudara dalam nilai Kai-Wait.
Ia mengatakan Kai-Wait merupakan nilai budaya sekaligus energi kebudayaan yang mendorong lahirnya kasih, keterbukaan, dan saling menghormati antar sesama tanpa memandang suku dan agama. Nilai tersebut juga tercermin dalam tradisi penyambutan masyarakat Buru Selatan melalui penyematan ifutin bagi laki-laki dan selendang bagi perempuan sebagai bagian dari penerimaan yang tulus.
Dalam konteks pelayanan, Lesbassa mengingatkan bahwa gereja adalah komunitas persaudaraan yang dipanggil untuk menjadi pembelajar Kai-Wait, serta menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sosial.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran profetik gereja dengan menjadi teladan dalam tutur kata, tindakan, gaya hidup, dan cara pandang yang tidak eksklusif, serta tetap menyuarakan keadilan, kasih, kesejahteraan, dan komitmen merawat perdamaian.
"Kita harus menjadi teladan moral di tengah kerapuhan moral akibat disrupsi teknologi dan disrupsi etik, tidak melumrahkan hate speech, bullying, kekerasan, korupsi, dan ketidakadilan," tegasnya.
Persidangan ini dilaksanakan dalam bingkai tema pelayanan lima tahun GPM, "Anugerah Allah Melengkapi dan Meneguhkan Gereja Menuju Satu Abad GPM" dan subtema tahun 2026, "Layanilah Umat dengan Tekun Sesuai Kasih Allah."
Ia juga menyoroti pentingnya kepekaan pelayan gereja dalam membaca realitas sosial, sehingga pelayanan tidak hanya bersifat rutin, tetapi mampu menjawab perubahan perilaku masyarakat.
Selain itu, pelaksanaan persidangan secara bergilir di jemaat disebut sebagai bentuk kemitraan strategis antara gereja, pemerintah desa, tokoh adat, dan tokoh agama dalam semangat Kai-Wait.
Pada kesempatan itu, ia juga menyoroti berbagai kendala klasik seperti infrastruktur jalan dengan harapan adanya perhatian pemerintah guna menunjang mobilitas masyarakat termasuk ruas jalan Namrole–Leksula.
Dalam arah pelayanan ke depan, Klasis GPM Buru Selatan akan menetapkan Rencana Pengembangan Pelayanan Klasis (RPPK) 2026–2030 dengan fokus pada pendidikan, pembinaan anak dan remaja melalui SM-TPI, pembinaan keluarga (Binakel), peningkatan kapasitas pelayan, serta pengelolaan lingkungan hidup.
Lesbassa menjelaskan, pada sektor pendidikan gereja memberikan perhatian serius terhadap penyelenggaraan pendidikan melalui Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Dr. J.B. Sitanala, khususnya dalam mengatasi keterbatasan tenaga guru pada sejumlah sekolah dasar yang dikelola gereja.
Selain itu, penguatan pendidikan formal gereja juga diarahkan pada peningkatan kapasitas pengasuh Sekolah Minggu Tunas Pekabaran Injil (SM-TPI) sebagai wadah pembinaan iman dan kreativitas anak dan remaja.
Pada aspek pembinaan keluarga, ia menegaskan bahwa keluarga merupakan basis utama pelayanan gereja yang harus terus diperkuat sebagai "gereja rumah tangga" (ecclesia domestica), melalui nilai kasih, saling pengertian, serta kehidupan yang saling menopang.
Di sisi lain, gereja juga mendorong peningkatan kesadaran ekologis melalui pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan, termasuk menjaga keseimbangan ekosistem dan pelestarian sumber daya alam.
Menurutnya, seluruh upaya pelayanan tersebut sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten Buru Selatan melalui nilai BerAKHLAK, yang menekankan pentingnya moralitas, etika, spiritualitas, serta tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Untuk tahun 2026, Lesbassa menekankan komitmennya terhadap pelayanan kedepan melalui penerapan 3T yakni : tertib administrasi, tertib keuangan, dan tertib pelayanan sebagai budaya kerja yang harus didorong secara bersama.
Arahan Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM Pendeta Sacharias I. Sapulette yang disampaikan oleh Anggota MPH Sinode GPM Penatua. Natelda R. Timisela menyebutkan bahwa persidangan ini memiliki posisi strategis pasca Sidang ke-39 Sinode GPM dan Sidang pertama pada dasawarsa ke-5 pelaksanaan PIP-RIPP GPM.Disebutkan, sidang ini menjadi momentum penting dalam menerjemahkan visi, misi, dan arah pengembangan pelayanan GPM pada dasawarsa baru menuju satu abad GPM tahun 2035, sekaligus menjabarkan ketetapan-ketetapan Sidang Sinode di tingkat klasis dan jemaat.
Pada dasawarsa ke-5 ini, GPM dipandu oleh visi "Menjadi Gereja yang Berbuah dalam Anugerah Allah Tritunggal" sebagai pengembangan dari visi sebelumnya, yakni "Berakar dalam Allah Tritunggal, Bertumbuh Bersama Merawat dan Membela Kehidupan."
"Gereja tidak hadir untuk dirinya sendiri, melainkan menjadi agen pemulihan yang menyentuh luka-luka sosial, batin dan struktural dalam masyarakat," demikian disampaikan.
Gereja, lanjutnya, dipanggil untuk hadir secara inklusif dan berdampak dengan membuahkan kebaikan, keadilan, kebenaran, kesejahteraan, perdamaian, serta menjaga keutuhan ciptaan.
Dalam arah pelayanan tersebut, berbagai persoalan seperti kemiskinan, keterbatasan akses dan kualitas pendidikan serta kesehatan, krisis keluarga, trauma sosial, konflik, hingga dampak eksploitasi sumber daya alam menjadi perhatian bersama yang menuntut kehadiran gereja secara aktif dan kontekstual.
Pihaknya juga menyoroti bahwa pelayanan gereja tidak cukup hanya bersifat rutin, tetapi perlu menghadirkan terobosan yang digerakkan oleh spiritualitas pembaruan dan pembebasan guna mendorong transformasi nyata dalam kehidupan jemaat.
Selain itu, pihaknya menambahkan bahwa perhatian terhadap keluarga sebagai "gereja rumah tangga" perlu diperkuat melalui pendampingan pastoral, termasuk dalam menghadapi persoalan sosial seperti kekerasan dalam rumah tangga, judi online, pinjaman online, serta relasi keluarga yang rapuh.
Pemberdayaan ekonomi umat juga didorong melalui program Gerakan Keluarga Menanam, Melaut, Beternak, dan Memasarkan sebagai gerakan bersama di seluruh klasis dan jemaat dengan indikator yang terukur.
Di bidang pendidikan dan kesehatan, ditekankan pentingnya peningkatan kualitas sekolah-sekolah gereja, pemenuhan tenaga pendidik, serta edukasi pola hidup sehat termasuk perhatian terhadap kesehatan mental umat.
Lebih lanjut Timisela menambahkan bahwa penguatan kapasitas dan integritas pelayan gereja menjadi hal penting dalam menghadapi tantangan perubahan sosial dan perkembangan teknologi digital.
Berbagai isu strategis lainnya seperti pengelolaan lingkungan, penanggulangan bencana, penguatan relasi lintas iman, serta transformasi pelayanan berbasis teknologi digital juga diharapkan terus dikembangkan sesuai konteks wilayah pelayanan masing-masing.
Kesempatan yang sama Bupati Buru Selatan, La Hamidi dalam sambutannya menyampaikan bahwa Klasis GPM Buru Selatan yang terdiri dari 29 jemaat dan 4 Pos Pekabaran Injil, dengan wilayah pelayanan yang mencakup pesisir timur, barat hingga pedalaman pegunungan, memiliki tantangan pelayanan yang tidak ringan.
Namun demikian, pihaknya menyatakan keyakinan bahwa dengan semangat kebersamaan dan iman yang kokoh, seluruh tantangan tersebut dapat dihadapi oleh gereja bersama masyarakat.Pemerintah Kabupaten Buru Selatan, lanjutnya, memandang gereja sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah, khususnya dalam pembinaan moral, spiritual, serta penguatan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan kedamaian di tengah masyarakat.
Ia berharap hasil persidangan tahun 2026 dapat bersinergi dengan program pembangunan daerah, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ketahanan sosial masyarakat, serta pemberdayaan masyarakat di wilayah pesisir dan pegunungan.
Harapannya setiap keputusan yang dihasilkan benar-benar mencerminkan nilai-nilai iman serta membawa dampak positif bagi kehidupan bergereja, bermasyarakat, dan berbangsa.
Agenda Sidang Klasis turut dihadiri Wakil Bupati Buru Selatan Gerson E. Selsily, unsur DPRD Kabupaten, pimpinan OPD, Forkopimda, Pengurus AMGPM Daerah Buru Selatan, Forkopimcam, serta para pelayan gereja.
Peserta sidang Klasis GPM Buru Selatan tercatat berjumlah lebih dari 100 orang dari peserta Biasa dan Peserta Luar Biasa yang berasal dari 29 jemaat tersebar di wilayah pelayanan Klasis Buru Selatan.
Jalannya agenda sidang ke-62 Klasis GPM Buru Selatan berlangsung pada pukul 14.17 hingga berakhir tepat pukul 16.49 WIT dengan berbagai pembahasan strategis terkait arah pelayanan di Klasis Buru Selatan ke depannya. (MC)
Ketua Daerah AMGPM Buru Selatan, Erens J. Tasidjawa, dalam pidatonya menegaskan bahwa perjalanan organisasi yang telah mencapai usia 93 tahun merupakan momentum penting menuju satu abad pengabdian AMGPM.
Ia menyampaikan bahwa gereja, pemerintah, dan pemuda memiliki peran yang saling melengkapi dalam pembangunan daerah.
“Kesatuan ini penting, di mana gereja membina iman, pemerintah menghadirkan kebijakan serta arah pembangunan, dan pemuda menjadi agen perubahan,” ujar Tasidjawa.Mengusung tema “Ziarah Profetik AMGPM Menuju Seratus Tahun: Tekun Melayani Sesuai Kehendak Tuhan”, ia menjelaskan bahwa tema tersebut menjadi arah gerak organisasi untuk terus berjalan dalam kesadaran panggilan Tuhan, disertai disiplin, integritas, dan tanggung jawab moral.
Menurutnya, menuju usia satu abad AMGPM, tantangan utama adalah memastikan seluruh Cabang dan Ranting ranting tetap aktif serta kader terus bertumbuh dalam iman dan karakter.
“Firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak jemu berbuat baik. Itu berarti kita harus tetap tekun melayani meski dalam keterbatasan bahkan di tengah tantangan zaman,” katanya.
Pencanangan HUT ke-93 AMGPM di Buru Selatan dilaksanakan secara serentak di 38 ranting dan 8 cabang di seluruh wilayah pelayanan. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan berbagai aktivitas sosial dan pelayanan masyarakat.Tasidjawa juga mengajak seluruh kader untuk menjaga solidaritas dan toleransi, terlebih karena rangkaian kegiatan berlangsung bertepatan dengan bulan suci Ramadan.
“Kita harus merawat persaudaraan lintas iman dan menciptakan suasana harmonis sebagai kekuatan dalam membangun kebersamaan hidup Kai Wait di Buru Selatan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa AMGPM siap menjadi mitra pemerintah daerah dalam membina generasi muda yang beriman, produktif, dan memiliki kepedulian sosial.
Sementara itu, Koordinator Wilayah AMGPM Buru–Buru Selatan, Sami Latbual, menegaskan bahwa pencanangan HUT AMGPM harus dimaknai sebagai momentum syukur atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan organisasi.
Menurutnya, AMGPM memiliki dua fungsi penting, yakni sebagai organisasi pemuda gereja sekaligus organisasi kepemudaan yang memiliki tanggung jawab sosial lebih luas.“AMGPM harus memainkan peran strategis, baik untuk kemajuan gereja maupun dalam mendukung kebijakan pemerintah di setiap tingkatan,” jelas Latbual.
Ia juga mengingatkan para kader agar menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari sesuai motto AMGPM, “Kamu adalah Garam dan Terang Dunia.”
“Jika kita dipercaya menjadi guru, maka mengajarlah dengan sungguh-sungguh. Jika menjadi birokrat, bekerjalah dengan disiplin dan loyalitas. Itulah bentuk pelayanan kita,” tegasnya.
Latbual juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas daerah serta bijak dalam menggunakan media sosial, agar tidak memicu konflik yang merugikan organisasi maupun daerah.
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa Kabupaten Buru Selatan akan menjadi tuan rumah Musyawarah Pimpinan Paripurna (MPP) AMGPM pada 2029 mendatang, sehingga seluruh kader diharapkan mulai mempersiapkan diri sejak sekarang.“Kegiatan ini bukan hanya mempertaruhkan nama AMGPM Buru Selatan, tetapi juga wajah pemerintah daerah di mata Maluku dan Maluku Utara,” tandasnya.
Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Wendel Lesbassa, menilai momentum pencanangan HUT AMGPM menjadi ruang penting untuk memperkuat relasi kemanusiaan dan spiritualitas di tengah keberagaman masyarakat.
Ia menyebutkan bahwa perayaan ini berlangsung dalam suasana religius yang beriringan dengan ibadah Ramadan bagi umat Muslim serta masa Minggu Sengsara bagi umat Kristen.“Di sinilah kita dipertemukan dalam kesetaraan sebagai manusia. Relasi kita dengan Tuhan selalu diwujudkan dalam relasi kemanusiaan,” ujarnya.
Lesbassa juga menegaskan bahwa AMGPM sebagai organisasi kader berperan penting dalam menggerakkan potensi generasi muda gereja yang berusia 17 hingga 45 tahun.
"Untuk itu usia produktif ini harus di manfaatkan untuk pelayanan dan ikut terlibat aktif dalam arah pembangunan daerah," pungkasnya.Ditempat yang sama, Bupati Buru Selatan, La Hamidi, dalam sambutannya memberikan apresiasi atas pelaksanaan pencanangan HUT AMGPM secara serentak di seluruh wilayah Buru Selatan.
Menurutnya, perjalanan 93 tahun AMGPM merupakan bukti komitmen organisasi dalam membina generasi muda dan berkontribusi bagi kehidupan sosial masyarakat.
“Tema yang diusung tahun ini mengingatkan kita bahwa setiap perjalanan organisasi harus memiliki arah dan komitmen untuk melayani serta memberi manfaat bagi sesama,” kata La Hamidi.
Ia juga menilai berbagai kegiatan yang dilakukan AMGPM, seperti olahraga, aksi bersih lingkungan, hingga kegiatan sosial, menunjukkan kehadiran organisasi ini di tengah masyarakat.Bupati turut mengingatkan pentingnya menjaga toleransi dan persatuan di Buru Selatan, terlebih kegiatan AMGPM berlangsung di tengah suasana bulan suci Ramadan.
“Buru Selatan dibangun atas nilai kebersamaan dan persaudaraan. Nilai itu harus terus kita jaga bersama agar pembangunan daerah berjalan dengan baik,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah daerah memandang AMGPM sebagai mitra strategis dalam membina sumber daya manusia yang beriman, berkarakter, dan peduli terhadap masyarakat.
"AMGPM adalah mitra Pemda dalam berbagai segi, " tutupnya.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pencanangan, AMGPM juga menyalurkan bingkisan sembako kepada para janda dan duda, yang ada di AMGPM Ranting Ebraun, Ranting Muan Modan, dan Ranting Tolot Lea.Pencanangan perayaan HUT ke-93 ditandai dengan pengibaran bendera organisasi oleh Bupati, yang sekaligus menandai dimulainya rangkaian kegiatan di masing-masing Cabang maupun Ranting, yang diawali jalan santai dan senam bersama.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kepedulian sosial AMGPM sekaligus mempertegas komitmen organisasi untuk terus hadir ditengah lingkungannya.
Dengan semangat menuju satu abad pengabdian, seluruh kader AMGPM Buru Selatan diharapkan semakin solid, militan, dan konsisten dalam menjalankan panggilan pelayanan bagi Gereja, Masyarakat, dan Daerah.Pencanangan ini dihadiri juga oleh Sekretaris Daerah AMGPM Buru Selatan, Pdt. Y Pattinasarani bersama para pengurus daerah, sejumlah Pendeta, Pengurus Cabang I Talitakumi, pengurus dan anggota ranting AMGPM Muan Modan, AMGPM Ranting Tolot Lea serta AMGPM Ranting Ebraun.(MC)





















