Baca Juga
Buru Selatan - Perjalanan pembangunan Pastori 2 menjadi bagian dari dinamika pelayanan Jemaat GPM Waemulang yang melibatkan umat dan berbagai pihak. Setelah melalui proses pembangunan sejak 28 Desember 2016 dan kembali digerakkan secara lebih intensif sejak 2023, Pastori 2 Jemaat GPM Waemulang, Klasis GPM Buru Selatan, akhirnya ditahbiskan dan diresmikan oleh Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pdt. Wendhel F. Lesbassa, M.Si., Kamis, 24 September 2026.
Prosesi pentahbisan dan peresmian tersebut disaksikan Bupati Buru Selatan, La Hamidi, SH. Ibadah pentahbisan dan peresmian dilayani Pdt. Ny. Adel Papasoka/W, Ketua Majelis Jemaat GPM Grahwaen. Kegiatan tersebut dihadiri Camat Leksula, sejumlah pimpinan OPD Kabupaten Buru Selatan, para pendeta, umat Jemaat GPM Waemulang serta panitia pembangunan.
Pembangunan Pastori 2 berlangsung melalui keterlibatan warga jemaat dan dukungan berbagai pihak. Ketua Panitia Pembangunan Pastori 2, Yosephus Nustelu, menjelaskan bahwa pekerjaan pembangunan telah dimulai pada 28 Desember 2016 dan kembali digerakkan secara lebih intensif sejak 2023.
Dukungan warga Waemulang menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Dukungan juga datang dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Buru Selatan, sehingga pembangunan dapat diselesaikan hingga tahap pentahbisan dan peresmian.
"Berkat topangan anak negeri Waemulang dan semua pihak termasuk Pemerintah Kabupaten Buru Selatan maka Pastori 2 ini bisa diresmikan hari ini,"kata Yosephus.
Atas dukungan tersebut, Yosephus menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat sejak pembangunan dimulai hingga pelaksanaan pentahbisan dan peresmian.
*Pastori dalam Kehidupan Gereja*
Bagi Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pdt. Wendhel F. Lesbassa, M.Si., keberadaan pastori berkaitan langsung dengan kehidupan pelayanan gereja. Pastori merupakan barang milik gereja yang digunakan sebagai tempat tinggal pendeta bersama keluarganya sekaligus ruang menjalani tanggung jawab pelayanan di tengah jemaat.
"Di jemaat, pastori jemaat adalah tempat tinggal dan tempat bergumul seorang pendeta dalam jabatan sebagai Ketua Majelis atau Pdt Jemaat bersama rumah tangganya,"jelas Lesbassa.
Fungsi tersebut menempatkan pastori sebagai bagian dari kehidupan pastoral. Di dalamnya berlangsung kehidupan keluarga pendeta sekaligus berbagai pergumulan pelayanan yang berkaitan dengan kehidupan jemaat.
Pemahaman tentang fungsi pastori tersebut berkaitan dengan proses pembangunan Pastori 2. Warga Jemaat GPM Waemulang turut mengambil bagian dalam pekerjaan pembangunan, termasuk mereka yang memiliki keterampilan sebagai tukang.
Bagi Lesbassa, keterlibatan umat menunjukkan adanya prakarsa dan tanggung jawab bersama dalam kehidupan gereja.
"Pembangunan Pastori jemaat adalah bukti prakarsa umat dan pelayan di jemaat, bukti dari pergumulan umat dan pelayan di jemaat, bukti dari swadaya jemaat tanpa pamrih, bukti dari kesetiaan dan kecintaan kepada pelayanan gereja," ujarnya.
Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan jemaat dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki warga. Keterampilan, tenaga dan kepedulian umat menjadi bagian dari proses penyediaan fasilitas pelayanan gereja.
*Kerja Bersama dalam Pembangunan*Proses pembangunan Pastori 2 juga memperlihatkan keterlibatan berbagai pihak. Jemaat bekerja bersama masyarakat dan pihak lain yang memberikan dukungan selama pembangunan berlangsung.
Lesbassa menjelaskan bahwa pengalaman tersebut menunjukkan pola kerja gereja yang bertumpu pada kebersamaan.
"Kita tidak bekerja sendiri. Tetapi kita bekerja bersama-sama, bekerja bersama sesama dan bekerja bersama Opolastala,"katanya.
Dukungan yang hadir selama pembangunan, menurut Lesbassa, merupakan bagian dari cara kerja Opolastala yang menggerakkan kepedulian orang-orang untuk membantu dan memberikan kemudahan dalam proses pembangunan.
"Cara kerja Opolastala itu semakin meyakinkan kita bahwa Tuhan itu baik. Ia baik kepada manusia dan seluruh ciptaan. Ia baik kepada Jemaat GPM Waemulang, Ia baik kepada gereja yang adalah milik kepunyaan-Nya," tutur Lesbassa.
Pengalaman pembangunan tersebut memperlihatkan hubungan antara partisipasi umat, dukungan berbagai pihak dan kehidupan pelayanan gereja. Proses penyediaan fasilitas pelayanan berlangsung melalui keterlibatan banyak unsur dengan peran masing-masing.
*Pastori sebagai Ruang Pelayanan*
Setelah ditahbiskan dan diresmikan, Pastori 2 digunakan untuk mendukung kehidupan pelayanan Jemaat GPM Waemulang. Bagi Lesbassa, fungsi tersebut perlu ditempatkan dalam kerangka pelayanan yang terbuka terhadap umat dan masyarakat.
Pastori menjadi ruang perjumpaan antara pendeta, umat dan masyarakat. Karena itu, kehidupan di dalamnya berkaitan dengan kesediaan untuk menerima, berbagi dan membangun komunikasi.
"Pastori adalah rumah (Huma) dimana segala egoisme harus ditinggalkan, digantikan dengan kesediaan berbagi, menerima, menyambut dan berdialog dengan siapapun yang datang," ujarnya.
Dalam konteks pelayanan, seorang pendeta perlu membuka ruang dialog dengan umat, memberikan bimbingan dan mendengarkan berbagai masukan. Pastori menjadi salah satu ruang yang mendukung proses tersebut.
*Pemerintah Apresiasi Keterlibatan Warga*
Bupati Buru Selatan, La Hamidi, SH., memberikan apresiasi terhadap warga Jemaat GPM Waemulang dan masyarakat Waemulang yang terlibat dalam pembangunan Pastori 2.
"Kami memberikan apresiasi kepada warga Jemaat dan masyarakat Waemulang yang secara sungguh-sungguh bekerja untuk mempersiapkan Pastori bagi hamba Tuhan yang melayani di sini," kata La Hamidi.
Dalam sambutannya, Bupati juga memberikan apresiasi terhadap perhatian anak-anak negeri Waemulang terhadap pembangunan jemaat. Ia menyebut adanya dinamika dan perbedaan pendapat selama proses pembangunan sebagai bagian dari perjalanan pekerjaan.
La Hamidi berharap Pastori 2 dapat memberikan kenyamanan bagi hamba Tuhan dalam menjalankan tugas pelayanan dan pembinaan iman umat.
Ia juga menempatkan pembangunan mental dan spiritual sebagai bagian dari pembangunan masyarakat yang perlu berjalan bersama pembangunan fisik.
"Selain pembangunan fisik, pembangunan mental dan spiritual umat juga penting dilakukan," ujarnya.
*Menjadi Bagian dari Pelayanan Jemaat*
Rangkaian pentahbisan dan peresmian Pastori 2 ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pdt. Wendhel F. Lesbassa, M.Si., dan Bupati Buru Selatan, La Hamidi, SH. Pengguntingan pita dilakukan oleh Ny. Oke Lesbassa/Saija.
Selain menjadi sarana pelayanan, Pastori 2 menjadi bagian dari kehidupan jemaat yang mempertemukan tugas pastoral, kehidupan umat dan semangat kebersamaan dalam membangun gereja.
"Bersukacitalah dan bersyukurlah, karena Opolastala da puna Gosat la kita hansiak." (W.L)
Namrole - Pengurus AMGPM Daerah Buru Selatan menggelar Turnamen Penalty Kick selama dua hari, 8-9 Juli 2026, sebagai bagian dari semarak euforia Piala Dunia 2026 yang tengah berlangsung.
Kegiatan yang dipusatkan di depan Gedung Gereja Protestan Maluku (GPM) Imanuel Waenono-Kamlanglale tersebut berlangsung mulai pukul 14.00 WIT hingga selesai dan terbuka untuk umum.
Turnamen ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Lebih dari 200 peserta ambil bagian setelah pendaftaran dibuka selama satu bulan sebelum pelaksanaan kegiatan. Peserta yang ikut tidak hanya berasal dari kalangan orang dewasa, tetapi juga didominasi anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, yang turut meramaikan jalannya pertandingan.
Kehadiran para peserta muda tersebut menjadi warna tersendiri dalam pelaksanaan turnamen, sekaligus menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap olahraga sepak bola. Momentum ini juga menjadi bagian dari semarak Piala Dunia 2026 yang menghadirkan suasana kebersamaan dan kegembiraan di tengah masyarakat.
Ketua AMGPM Daerah Buru Selatan, Erens J. Tasidjawa, saat membuka kegiatan mengatakan, Turnamen Penalty Kick menjadi wadah positif bagi generasi muda dan masyarakat untuk menyalurkan minat serta kecintaan terhadap olahraga sepak bola.Menurut Tasidjawa, kegiatan tersebut tidak hanya mengejar aspek kompetisi, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kebersamaan, mempererat persaudaraan, serta menanamkan nilai sportivitas kepada seluruh peserta.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap seluruh peserta dapat menjunjung tinggi semangat fair play, menjaga persaudaraan, dan menjadikan olahraga sebagai sarana memperkuat kebersamaan. Terlebih anak-anak dan generasi muda dapat belajar tentang sportivitas serta nilai positif dalam berkompetisi,” ujar Tasidjawa.
Sementara itu, Koordinator Wilayah II Buru-Buru Selatan, Sami Latbual, memberikan apresiasi kepada Pengurus AMGPM Daerah Buru Selatan yang telah menginisiasi kegiatan tersebut tepat di tengah berlangsungnya ajang sepak bola dunia.
Latbual menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini menjadi ruang yang baik untuk mempertemukan masyarakat melalui olahraga, sekaligus memperkuat hubungan antar pemuda dan warga.“Kegiatan ini bukan hanya tentang mencari pemenang, tetapi bagaimana kita membangun komunikasi, mempererat persaudaraan, serta menciptakan suasana kebersamaan melalui olahraga,” katanya.
Ia juga berharap seluruh peserta dapat menjaga ketertiban, mengedepankan sportivitas, serta menjadikan turnamen tersebut sebagai pengalaman positif bagi semua pihak yang terlibat.
Dalam pelaksanaan kegiatan, pihak kepolisian turut memberikan dukungan dengan mengimbau peserta dan masyarakat yang hadir agar bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban. Dukungan tersebut diharapkan dapat memastikan seluruh rangkaian pertandingan berlangsung aman, tertib, dan lancar.
Setelah berlangsung selama dua hari, Turnamen Penalty Kick AMGPM Daerah Buru Selatan resmi ditutup oleh Sekretaris AMGPM Daerah Buru Selatan, Pendeta Yohanis Pattinasarany.Dalam sambutannya, Pattinasarany menyampaikan rasa syukur karena seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik hingga selesai. Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pengurus Besar AMGPM, Pemerintah Kabupaten Buru Selatan, Majelis Jemaat GPM Waenono-Kamlanglale, Pemerintah Desa Waenono, Pemerintah Desa Kamlanglale, Pengurus Cabang dan Pengurus Ranting AMGPM Wilayah Cabang I Talitakumi, serta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Keberhasilan kegiatan ini merupakan hasil dukungan dan kerja sama semua pihak. Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta dan pihak yang telah membantu sehingga Turnamen Penalty Kick ini dapat terlaksana dengan baik,” ungkap Pattinasarany.Pada akhir kegiatan, panitia menetapkan tiga peserta terbaik sebagai juara I, II, dan III. Para pemenang menerima penghargaan berupa medali, piala, serta bonus sebagai bentuk apresiasi atas prestasi yang diraih dalam Turnamen Penalty Kick AMGPM Daerah Buru Selatan.
Turnamen tersebut diharapkan dapat menjadi agenda positif yang terus memperkuat semangat kebersamaan, sportivitas, dan persaudaraan masyarakat Buru Selatan melalui olahraga. (MC)
Tifu - Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM melalui Departemen Pekabaran Injil dan Pelayanan Kasih (PIPK) bersama Majelis Pekerja Klasis GPM Buru Selatan melalui Bidang PIPK melaksanakan kegiatan Pendampingan Penyusunan Peraturan Desa (PerDes/PerNeg) di Jemaat GPM Tifu, Klasis Buru Selatan. Agenda tersebut merupakan implementasi dari Keputusan Sidang ke-39 Sinode GPM Tahun 2025 serta Keputusan Sidang ke-62 Klasis GPM Buru Selatan Tahun 2026.
Pembukaan kegiatan diawali dengan ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Y. Pattinasarany. Dalam khotbahnya, Pattinasarany menekankan bahwa Roh Kudus memampukan umat untuk menjalankan legacy kekuasaan dari Allah melalui tanggung jawab pelayanan, kepemimpinan, serta keberpihakan terhadap kehidupan bersama di tengah masyarakat.
Kegiatan yang dipusatkan di Gedung Gereja Ebenhaezer Jemaat GPM Tifu berlangsung selama 3 hari sejak tanggal 26-28 Mei 2026, menghadirkan para kepala desa, ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh adat, tokoh pemuda serta para Pendeta GPM se-Klasis Buru Selatan. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa penyusunan PerDes menjadi instrumen sosial yang mengatur relasi masyarakat, adat, lingkungan hidup, dan kepentingan pembangunan desa secara berkelanjutan.
Sekretaris Departemen PIPK Sinode GPM, Pdt. Chris Lawalata, dalam arahannya menegaskan bahwa gereja memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk membangun kolaborasi strategis bersama pemerintah desa, terutama dalam mendorong lahirnya regulasi desa yang responsif terhadap persoalan lingkungan hidup dan hak-hak masyarakat adat.
"Kegiatan ini adalah bentuk kesadaran gereja untuk berkolaborasi dengan pemerintah sebagai mitra strategis dalam membantu pemerintah desa menyusun Peraturan Desa, secara khusus yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan hak-hak masyarakat adat," ujar Lawalata.Menurutnya, gereja pada era saat ini tidak cukup hanya menjalankan fungsi pastoral dan liturgis, tetapi juga dituntut menghadirkan kontribusi nyata dalam menjawab berbagai persoalan publik yang berkembang di tengah masyarakat. Karena itu, pendampingan penyusunan PerDes menjadi salah satu bentuk praksis pelayanan gereja yang kontekstual dan transformatif.
Sementara itu, Bupati Buru Selatan dalam sambutannya yang dibacakan Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Buru Selatan Herry Waemese, menyampaikan apresiasi kepada MPH Sinode GPM bersama MPK Buru Selatan atas perhatian serius terhadap dinamika sosial masyarakat desa yang saat ini membutuhkan penguatan regulasi berbasis kepentingan bersama.
"Peraturan Desa menjadi kebutuhan penting sebagai rambu-rambu dalam kehidupan masyarakat desa yang memiliki kepastian hukum, terutama untuk meminimalisir potensi konflik sengketa tanah ulayat, batas desa, maupun pengelolaan sumber daya alam," ungkap Waemese.
Ia menambahkan, Pemerintah Daerah Kabupaten Buru Selatan berharap kegiatan tersebut dapat melahirkan gagasan kolektif yang kemudian diterjemahkan menjadi produk hukum desa yang adaptif, aspiratif, dan mampu memperkuat otonomi serta jati diri desa adat di Kabupaten Buru Selatan.
Ketua Klasis Buru Selatan Pendeta. Wendhel F. Lesbassa berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat peran gereja sebagai kekuatan moral sekaligus mitra strategis masyarakat dan pemerintah dalam mengawal ruang publik yang berkeadilan, partisipatif, dan berorientasi pada keberlanjutan hidup bersama.
Adapun fasilitator yang dihadirkan dalam kegiatan ini berasal dari kalangan akademisi dan praktisi, yakni Piter Radjawane, A.D. Bakarbessy, serta Kepala Biro Hukum, HAM dan Advokasi Sinode GPM, Pdt. Sonny Reskir. (Mc)
Namrole - Dari Namrole Sabtu, 25 April 2026 pukul 10.30 WIT, perjalanan dimulai menembus jalan berdebu, menyusuri lekuk waktu yang perlahan bergerak, hingga tiba di Nafrua sekitar pukul 13.20 WIT. Jalan panjang yang berdebu beterbangan di siang hari tetapi dilalui pula dalam guyuran hujan pada perjalanan kembali. di kiri-kanan terbentang seperti lukisan Sang Pencipta, pohon minyak kayu putih berjejer rapi, riuh riang-riang bersahut, menyambut kehadiran rombongan yang berjibaku melewati jalur ekstrem dan sungai yang menghadang. Perjalanan yang perlahan menuntun rombongan tiba di satu perjumpaan bersama umat pegunungan pulau buru yang telah lama dirindukan.Setibanya di tanah Nafrua, di pelukan alam kaku Bipolo yang terbentang hijau, tabuhan tifa menggema dengan tarian adat Buru oleh umat di Nafrua yang bersorak sukacita menyambut kehadiran para Geba Sniuk. Ifutin dikenakan kepada Wakil Ketua I MPH Sinode GPM, Pendeta. Riko Rikumahu bersama Ketua Klasis Buru Selatan Pendeta. Wendhel F. Lesbassa dan Sekretaris Klasis Pendeta. Sammy M. Redjo, menghadirkan rasa yang merangkul semua geba sniuk yang hadir dalam kebersamaan yang indah, melalui sambutan yang menegaskan bahwa perjalanan panjang itu berakhir dalam kehangatan persekutuan yanh utuh.
Dari suasana penyambutan itu, rangkaian pelayanan berlanjut pada prosesi ibadah pemekaran dan pelembagaan yang dilaksanakan pada Minggu, 26 April 2026. Ibadah pemekaran berlangsung di Gereja Petra Jemaat GPM Batu Karang yang dipimpin oleh Pendeta. Glen Huwae, sementara akta pemekaran diserahkan oleh MPH Sinode GPM, menandai dimulainya babak baru dalam perjalanan jemaat.
Usai ibadah, pelayan dan umat berlanjut menuju Jemaat GPM Nafrua, langkah demi langkah berjalan dalam satu arah yang sama, seakan merajut kisah bahwa ziarah iman tidak pernah ditempuh sendiri, melainkan dalam kebersamaan yang saling menguatkan hingga benar-benar melahirkan Nafrua sebagai persekutuan yang terus bertumbuh.Ibadah pelembagaan kemudian dipimpin oleh Pendeta. Riko Rikumahu, yang dalam khotbahnya menegaskan bahwa kehadiran gereja harus nyata dalam kehidupan umat.
“Gereja tidak hanya berdiri sebagai institusi, tetapi harus menghadirkan tindakan penyelamatan bagi umat di tengah pergumulan hidup,” tegasnya, menautkan pesan pelayanan dengan realitas kehidupan jemaat sehari-hari.Peneguhan Ketua Majelis Jemaat GPM Nafrua, Penginjil. Jemris Latuwael, dilakukan oleh Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pendeta Wendhel F. Lesbassa, yang kemudian dilanjutkan dengan penyerahan Jemaat GPM Nafrua dari Klasis Buru Selatan kepada Klasis Buru Utara, dan diterima oleh Ketua Klasis GPM Buru Utara, Pendeta. Herfin Yandres Siahaya, menandai peralihan tanggung jawab pelayanan dalam satu kesatuan tubuh gereja.
Dalam sambutannya, Pendeta Wendhel F. Lesbassa menegaskan bahwa pelembagaan ini merupakan amanat Persidangan ke-39 Sinode GPM tahun 2025. Ia kemudian melanjutkan dengan ungkapan syukur dalam bahasa daerah sebelum menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam proses panjang pelayanan tersebut.
Lesbassa menyampaikan terima kasih kepada MPH Sinode GPM, para pendeta se-Klasis, tokoh adat, hingga Jemaat GPM Batu Karang yang setia mengawal pelayanan sejak awal Pekabaran Injil tahun 2019, yang diawali dengan baptisan 36 orang hingga berkembang dari Pos PI menjadi Sektor PI, sampai akhirnya dilembagakan.Sementara itu, dalam arahannya, Wakil Ketua I MPH Sinode GPM, Pendeta Riko Rikumahu, mengingatkan bahwa pelayanan harus terus dijalankan dengan kesungguhan dan kedekatan dengan umat.
“Ketua Majelis Jemaat yang baru diteguhkan harus hadir di tengah umat, berjumpa dengan mereka, mendengar mereka, dan melayani dengan hati,” tegasnya, meneguhkan arah pelayanan ke depan.Seluruh rangkaian ini kemudian bermuara pada satu pemahaman bersama bahwa Nafrua bukan hadir secara tiba-tiba, melainkan lahir dari proses panjang, dari perjumpaan yang terus dirawat, dan dari iman yang tidak berhenti berjalan, ziarah yang kini menemukan bentuknya dalam kehidupan jemaat yang terus bertumbuh. (MC)
Buru Selatan - Sidang ke-62 Klasis GPM Buru Selatan yang berlangsung di Jemaat Namrinat, Minggu (22/03/2026), menyoroti peran gereja dalam merespons berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat, sekaligus mendorong penerapan tertib administrasi, tertib keuangan, dan tertib pelayanan (3T).
Kegiatan dimulai dengan ibadah pada pukul 09.00 WIT yang dipimpin oleh Pdt. H. D. Behuku sebagai pemimpin liturgos dan Pdt. R. Parera sebagai pelayan firman, dari pembacaan Injil Matius 27:11-26 melalui tema mingguan "Bertanggungjawablah Demi Keadilan, Jangan Cuci Tangan."
Dalam rangkaian pembukaan sidang, Ketua Klasis GPM Buru Selatan, Pendeta Wen Lesbassa, menyampaikan pokok pikiran pelayanan gereja yang menekankan relasi kemanusiaan, tanggung jawab iman, serta peran gereja dalam menjawab dinamika sosial.
Lesbassa mengatakan momentum persidangan tahun ini dinilai memiliki makna karena berlangsung bersamaan dengan Minggu Sengsara Kristus ke-6 sebagai karya penebusan Allah di dalam Kristus dan perayaan Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah oleh umat Islam sebagai simbol kemenangan iman.
"Atas nama warga GPM se-Klasis Buru Selatan, kami menyampaikan Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin, selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri," ujarnya.
Menurutnya, kedua momentum tersebut menegaskan bahwa beragama adalah pemenuhan relasi Ilahi melalui relasi kemanusiaan, di mana manusia berjumpa sebagai sesama yang setara dan sebagai saudara dalam nilai Kai-Wait.
Ia mengatakan Kai-Wait merupakan nilai budaya sekaligus energi kebudayaan yang mendorong lahirnya kasih, keterbukaan, dan saling menghormati antar sesama tanpa memandang suku dan agama. Nilai tersebut juga tercermin dalam tradisi penyambutan masyarakat Buru Selatan melalui penyematan ifutin bagi laki-laki dan selendang bagi perempuan sebagai bagian dari penerimaan yang tulus.
Dalam konteks pelayanan, Lesbassa mengingatkan bahwa gereja adalah komunitas persaudaraan yang dipanggil untuk menjadi pembelajar Kai-Wait, serta menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sosial.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran profetik gereja dengan menjadi teladan dalam tutur kata, tindakan, gaya hidup, dan cara pandang yang tidak eksklusif, serta tetap menyuarakan keadilan, kasih, kesejahteraan, dan komitmen merawat perdamaian.
"Kita harus menjadi teladan moral di tengah kerapuhan moral akibat disrupsi teknologi dan disrupsi etik, tidak melumrahkan hate speech, bullying, kekerasan, korupsi, dan ketidakadilan," tegasnya.
Persidangan ini dilaksanakan dalam bingkai tema pelayanan lima tahun GPM, "Anugerah Allah Melengkapi dan Meneguhkan Gereja Menuju Satu Abad GPM" dan subtema tahun 2026, "Layanilah Umat dengan Tekun Sesuai Kasih Allah."
Ia juga menyoroti pentingnya kepekaan pelayan gereja dalam membaca realitas sosial, sehingga pelayanan tidak hanya bersifat rutin, tetapi mampu menjawab perubahan perilaku masyarakat.
Selain itu, pelaksanaan persidangan secara bergilir di jemaat disebut sebagai bentuk kemitraan strategis antara gereja, pemerintah desa, tokoh adat, dan tokoh agama dalam semangat Kai-Wait.
Pada kesempatan itu, ia juga menyoroti berbagai kendala klasik seperti infrastruktur jalan dengan harapan adanya perhatian pemerintah guna menunjang mobilitas masyarakat termasuk ruas jalan Namrole–Leksula.
Dalam arah pelayanan ke depan, Klasis GPM Buru Selatan akan menetapkan Rencana Pengembangan Pelayanan Klasis (RPPK) 2026–2030 dengan fokus pada pendidikan, pembinaan anak dan remaja melalui SM-TPI, pembinaan keluarga (Binakel), peningkatan kapasitas pelayan, serta pengelolaan lingkungan hidup.
Lesbassa menjelaskan, pada sektor pendidikan gereja memberikan perhatian serius terhadap penyelenggaraan pendidikan melalui Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Dr. J.B. Sitanala, khususnya dalam mengatasi keterbatasan tenaga guru pada sejumlah sekolah dasar yang dikelola gereja.
Selain itu, penguatan pendidikan formal gereja juga diarahkan pada peningkatan kapasitas pengasuh Sekolah Minggu Tunas Pekabaran Injil (SM-TPI) sebagai wadah pembinaan iman dan kreativitas anak dan remaja.
Pada aspek pembinaan keluarga, ia menegaskan bahwa keluarga merupakan basis utama pelayanan gereja yang harus terus diperkuat sebagai "gereja rumah tangga" (ecclesia domestica), melalui nilai kasih, saling pengertian, serta kehidupan yang saling menopang.
Di sisi lain, gereja juga mendorong peningkatan kesadaran ekologis melalui pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan, termasuk menjaga keseimbangan ekosistem dan pelestarian sumber daya alam.
Menurutnya, seluruh upaya pelayanan tersebut sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten Buru Selatan melalui nilai BerAKHLAK, yang menekankan pentingnya moralitas, etika, spiritualitas, serta tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Untuk tahun 2026, Lesbassa menekankan komitmennya terhadap pelayanan kedepan melalui penerapan 3T yakni : tertib administrasi, tertib keuangan, dan tertib pelayanan sebagai budaya kerja yang harus didorong secara bersama.
Arahan Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM Pendeta Sacharias I. Sapulette yang disampaikan oleh Anggota MPH Sinode GPM Penatua. Natelda R. Timisela menyebutkan bahwa persidangan ini memiliki posisi strategis pasca Sidang ke-39 Sinode GPM dan Sidang pertama pada dasawarsa ke-5 pelaksanaan PIP-RIPP GPM.Disebutkan, sidang ini menjadi momentum penting dalam menerjemahkan visi, misi, dan arah pengembangan pelayanan GPM pada dasawarsa baru menuju satu abad GPM tahun 2035, sekaligus menjabarkan ketetapan-ketetapan Sidang Sinode di tingkat klasis dan jemaat.
Pada dasawarsa ke-5 ini, GPM dipandu oleh visi "Menjadi Gereja yang Berbuah dalam Anugerah Allah Tritunggal" sebagai pengembangan dari visi sebelumnya, yakni "Berakar dalam Allah Tritunggal, Bertumbuh Bersama Merawat dan Membela Kehidupan."
"Gereja tidak hadir untuk dirinya sendiri, melainkan menjadi agen pemulihan yang menyentuh luka-luka sosial, batin dan struktural dalam masyarakat," demikian disampaikan.
Gereja, lanjutnya, dipanggil untuk hadir secara inklusif dan berdampak dengan membuahkan kebaikan, keadilan, kebenaran, kesejahteraan, perdamaian, serta menjaga keutuhan ciptaan.
Dalam arah pelayanan tersebut, berbagai persoalan seperti kemiskinan, keterbatasan akses dan kualitas pendidikan serta kesehatan, krisis keluarga, trauma sosial, konflik, hingga dampak eksploitasi sumber daya alam menjadi perhatian bersama yang menuntut kehadiran gereja secara aktif dan kontekstual.
Pihaknya juga menyoroti bahwa pelayanan gereja tidak cukup hanya bersifat rutin, tetapi perlu menghadirkan terobosan yang digerakkan oleh spiritualitas pembaruan dan pembebasan guna mendorong transformasi nyata dalam kehidupan jemaat.
Selain itu, pihaknya menambahkan bahwa perhatian terhadap keluarga sebagai "gereja rumah tangga" perlu diperkuat melalui pendampingan pastoral, termasuk dalam menghadapi persoalan sosial seperti kekerasan dalam rumah tangga, judi online, pinjaman online, serta relasi keluarga yang rapuh.
Pemberdayaan ekonomi umat juga didorong melalui program Gerakan Keluarga Menanam, Melaut, Beternak, dan Memasarkan sebagai gerakan bersama di seluruh klasis dan jemaat dengan indikator yang terukur.
Di bidang pendidikan dan kesehatan, ditekankan pentingnya peningkatan kualitas sekolah-sekolah gereja, pemenuhan tenaga pendidik, serta edukasi pola hidup sehat termasuk perhatian terhadap kesehatan mental umat.
Lebih lanjut Timisela menambahkan bahwa penguatan kapasitas dan integritas pelayan gereja menjadi hal penting dalam menghadapi tantangan perubahan sosial dan perkembangan teknologi digital.
Berbagai isu strategis lainnya seperti pengelolaan lingkungan, penanggulangan bencana, penguatan relasi lintas iman, serta transformasi pelayanan berbasis teknologi digital juga diharapkan terus dikembangkan sesuai konteks wilayah pelayanan masing-masing.
Kesempatan yang sama Bupati Buru Selatan, La Hamidi dalam sambutannya menyampaikan bahwa Klasis GPM Buru Selatan yang terdiri dari 29 jemaat dan 4 Pos Pekabaran Injil, dengan wilayah pelayanan yang mencakup pesisir timur, barat hingga pedalaman pegunungan, memiliki tantangan pelayanan yang tidak ringan.
Namun demikian, pihaknya menyatakan keyakinan bahwa dengan semangat kebersamaan dan iman yang kokoh, seluruh tantangan tersebut dapat dihadapi oleh gereja bersama masyarakat.Pemerintah Kabupaten Buru Selatan, lanjutnya, memandang gereja sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah, khususnya dalam pembinaan moral, spiritual, serta penguatan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan kedamaian di tengah masyarakat.
Ia berharap hasil persidangan tahun 2026 dapat bersinergi dengan program pembangunan daerah, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ketahanan sosial masyarakat, serta pemberdayaan masyarakat di wilayah pesisir dan pegunungan.
Harapannya setiap keputusan yang dihasilkan benar-benar mencerminkan nilai-nilai iman serta membawa dampak positif bagi kehidupan bergereja, bermasyarakat, dan berbangsa.
Agenda Sidang Klasis turut dihadiri Wakil Bupati Buru Selatan Gerson E. Selsily, unsur DPRD Kabupaten, pimpinan OPD, Forkopimda, Pengurus AMGPM Daerah Buru Selatan, Forkopimcam, serta para pelayan gereja.
Peserta sidang Klasis GPM Buru Selatan tercatat berjumlah lebih dari 100 orang dari peserta Biasa dan Peserta Luar Biasa yang berasal dari 29 jemaat tersebar di wilayah pelayanan Klasis Buru Selatan.
Jalannya agenda sidang ke-62 Klasis GPM Buru Selatan berlangsung pada pukul 14.17 hingga berakhir tepat pukul 16.49 WIT dengan berbagai pembahasan strategis terkait arah pelayanan di Klasis Buru Selatan ke depannya. (MC)
Namrole, Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Daerah Buru Selatan Cabang I Talitakumi Ranting Imanuel Waenono-Kamlanglale menggelar Bible Camp yang berlangsung di area Gedung Gereja Ebenhaezer Jemaat GPM Waetina Rabu (27/9/2023).
Kegiatan yang bertakjub Pemuda dan Krisis Zaman (Be Like Chris) Jadilah Seperti Yesus (Roma 2:5-8) melibatkan kader AMGPM dari Ranting Ebenhaezer Waetina.
Ketua Ranting Imanuel Waenono-Kamlanglale Alex De Kweeard Lesnussa mengatakan kegiatan Bible Camp yang digelar ini merupakan bagian dari hasil Keputusan Rapat Ranting yang diputuskan kemarin pada 11 Juni 2023 melalui Program Bidang III Keesaan dan Pembinaan Umat.
"Kegiatan Bible Camp menjadi salah satu program yang diputuskan di Rapat Ranting tahun ini melalui Bidang III." ungkapnya.menurut Lesnussa kegiatan ini merupakan wujud kebersamaan, kreativitas dan inovasi generasi muda AMGPM selaku agen-agen perubahan yang selalu memberikan Rasa dan memancarkan Terang bagi sesama termasuk didalam Ranting Ebenhaezer Waetina.
"ini merupakan wujud kebersamaan, kreativitas dan inovasi anak-anak muda GPM yang merupakan agen perubahan sebagai Garam dan Terang Dunia." ucapnya.
"Kegiatan ini bukan hanya sekedar kegiatan kerohanian semata, tapi lebih dari pada itu menjadikan kegiatan ini sebagai momentum dalam implementasi nilai dan moral untuk membangun kekompakan dan semangat menjaga kebersamaan para kader di wilayah pelayanan AMGPM Daerah Buru Selatan. " tambahnya.Senada dengan itu, Ketua Bidang III Pengurus Cabang I Talitakumi Ferdinan Kouwe mengatakan kegiatan Bible Camp yang diinisiasi Pengurus Ranting Imanuel Waenono-Kamlanglale menjadi bagian dari cara AMGPM mengajarkan arti kebersamaan dan semangat dengan membentuk karakter yang baik dan menanamkan nilai rohani pemuda gereja.
"Kegiatan yang diinisiasi Pengurus Ranting untuk mengajarkan arti kebersamaan dan semangat menanamkan karakter dan nilai-nilai yang baik bagi pemuda gereja".
Selain itu, kegiatan Bible camp juga sebagai bagian dari evaluasi diri dalam tugasnya selaku Pengurus Ranting dan anggota untuk meningkatkan semangat melayani sebagai bentuk panggilan menjadi Garam dan Terang Dunia.
"kegiatan ini turut meningkatkan semangat pelayanan kita, baik sebagai pengurus ranting maupun sebagai anggota dengan semangat rasa memiliki, mencintai dan bertanggung jawab terhadap AMGPM untuk terus menggarami dan menerangi dunia". tutupnya.
Kegiatan Bible Camp ini diisi dengan berbagai kegiatan diantaranya rekreasi, game, puji-pujian, retret dan meditasi.
Hadir dalam kegiatan tersebut Pengurus Cabang I Talitakumi, Pdt. Ny. J. Lopulalan/T, Pdt. Ny. Sherly Maelissa/S, Calon Pendeta Nn. Meyhan Koljaan, Para Pendamping MJ, Pembina Struktur Ranting Imanuel Waekam dan Waetina.Kegiatan Bible Camp berlangsung dari pukul 15.00 sampai dengan 03.00 Waktu Indonesia Timur. (MC)
Bursel, AMGPM - Musyawarah Pimpinan Paripurna Cabang (MPPC) XII AMGPM Cabang V Betlehem Minggu (26/03/2023) kembali digelar di Ranting Waenamaolon.
Mengawali rangkaian pembukaan MPPC XII AMGPM Cabang V Betlehem dilakukan kebaktian minggu yang dipimpin oleh Vikaris Aranscha Kulaleen.
usai kebaktian, proses pembukaan MPPC diawali dengan pidato Ketua Cabang V Betlehem Bung Roland Biloro, dikatakan MPPC yang digelar saat ini bukan untuk saling menghakimi melainkan menjadi wadah untuk pengembangan pelayanan dan pengkaderan organisasi pemuda gereja melalui evaluasi pelayanan secara baik. Hal ini dimaksudkan agar Cabang V Betlehem tetap solid dalam menjalankan pelayanan sebagai Garam dan Terang Dunia, mengingat adanya persiapan MPPD yg menjadi tanggung jawab bersama di Cabang V Betlehem, sehingga diperlukan kebersamaan yang baik dalam mensukseskan pelaksanaan MPPD di Ranting Getsemani Waehaolon pada tanggal 13-14 April 2023 nanti.
Berkaitan hal tersebut, melalui MPPC saat ini dapat menjadi tempat evaluasi bersama guna menetapkan program kegiatan tahun ini.
Ketua Bidang 2 Pengurus AMGPM Daerah Buru Selatan Usi Herlin Seleky dalam arahannya mengingatkan kader di Cabang V Betlehem agar dalam sidang legislatif yang berlangsung saat ini para peserta MPPC dapat mengevaluasi realisasi program dan anggaran tahun 2022 serta menetapkan program dan anggaran tahun ini termasuk pikiran-pikiran rekomendasi.
Seleky berharap forum MPPC XII AMGPM Cabang V Betlehem dapat menuangkan ide dan gagasan agar melahirkan program kegiatan sesuai konteks wilayah pelayanan. Selain itu, dirinya juga berkesempatan memberikan ucapan Selamat Hari Jadi AMGPM ke 90 dengan tema Bersukacita dan Jadilah Berkat.
Sementara Camat Leksula Bapak Rein Tasane berharap agar AMGPM dan Pemerintah tetap bersinergi.
MPPC ke XII di buka oleh Ketua Bidang 2 Pengurus Daerah Usi Herlin Seleky.
dalam agenda itu turut dihadiri Sekretaris Daerah AMGPM Daerah Buru Selatan Bung. Vence Titawael dan Ketua Bidang IV Bung Erens Tasidjawa, adapun Pdt. J. Behuku dan Pdt. G. Solissa.
Pelaksanaan MPPC XII menetapkan 7 Program, 13 Kegiatan dan 4 rekomendasi. Penutupan MPPC XII dilakukan dengan kebaktian yang dipimpin oleh Vikaris Jillian F. Adodo.
(MC)
Namrole, AMGPM
Peresmian ini turut dihadiri Majelis Pekerja Harian (MPH) Klasis Bursel; Ketua Klasis Bursel, Pdt. Seles Hukunala, Ketua Majelis Jemaat GPM Labuang, Pdt. Herna R Lessil, perangkat pelayan majelis jemaat GPM Labuang, ketua Panitia pembangunan Gedung Pastori I, Y E Makatita, Ketua Peresmian Gedung Pastori I, Renaldi Solissa, pendeta dari jemaat GPM tetangga dan seluruh jemaat GPM Labuang.
Ketua Klasis Bursel, Seles Hukunala dalam arahannya mengatakan Pastori adalah tempat hunian para hamba Tuhan untuk bergumul dengan jemaat yang ia layani.
Untuk itu kebutuhan infrastruktur gedung Pastori ini sangat penting demi menunjang aktivitas pelayanan di dalam jemaat.
"Kita bersyukur bangunan ini bisa diresmikan. Sebagai ketua klasis kami berterima kasih kepada panitia pembangunan dan semua pihak yang membantu," ujar Hukunala.
Katanya, pastori jemaat akan menjadi tempat pelayanan serta terus menjadi tempat transaksi pastoralia tetapi juga tempat transaksi sosial.
Dikatakan demikian sebab dalam pembangunan gedung Pastori I Jemaat GPM Labuang ada saudara-saudara muslim yang turut terlibat sebagai bagian dari interaksi sosial.
"Ini aset GPM. Kami bersyukur karena jemaat Labuang sudah menyumbangkan satu buah infrastruktur bagi GPM," paparnya.
Hukunala berharap, gedung Pastori I yang dibangun ini mampu dan dapat digunakan sebagaimana mestinya demi memperlancar pelayanan di jemaat GPM Labuang.
"Kami berharap pastori ini dapat dimanfaatkan dengan baik demi kelangsungan pelayanan," harapnya.
Di samping itu juga dilakukan peresmian pembangunan gedung kreativitas Anak SMTPI jemaat GPM Labuang yang disiapkan sebagai kawasan belajar untuk menyiapkan skill dan meningkatkan pengetahuan anak-anak GPM.
"Gereja telah melihat ke arah situ. Ruang bermain anak harus di persempit oleh orang tua dan ruang belajar harus ditingkatkan supaya kualitas anak-anak kita bisa tampil dan mampu bersaing dengan anak-anak di daerah lain. Ini peran nyata gereja demi menciptakan generasi brilian bagi nusa dan bangsa," paparnya.
Di akhir arahannya, ia kembali berterima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu sehingga proses pembangunan gedung pastori I jemaat GPM Labuang bisa berlangsung dengan baik."Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu dalam bentuk materil maupun tenaga selama pembangunan pastori ini," tandasnya.
Sementara itu, Bupati Bursel, Safitri Malik Soulisa dalam sambutannya yang di bacakan Staf Ahli bidang pemerintahan, Abdulgani Loilatu mengatakan pembangunan pastori mesti mengandung makna turut serta dalam misi penyelamatan yang di emban oleh Gereja.
Sejalan dengan hal tesebut, lanjut Loilatu, Pemda Bursel berharap, dengan hadirnya pastori representatif, tidak hanya dilihat sebagai icon sosial yang melengkapi keberadaan eksistensi Gereja, tetapi mesti dipahami sebagai lambang iman umat di jemaat GPM Labuang yang terekspresi melalui nilai-nilai kerja sama dan pengorbanan melalui keberadaan pastori ini supaya dapat memperlancar aktifitas pelayanan hamba Tuhan di jemaat.
"Kita pasti merasa gembira dengan diresmikannya gedung pastori saat ini, namun demikian hal ini merupakan suatu unsur penunjang dalam melakukan tanggungjawab di dalam menata layani serta strategis dalam membina generasi gereja secara optimal, melalui pelayanan jemaat secara menyeluruh," sebutnya.
Pemerintah daerah berharap, dengan diresmikannya gedung pastori di jemaat ini, kiranya menjadikan motivasi tersendiri bagi pembangunan jemaat dalam mengembangkan pelayanan ke depan menuju arah yang lebih baik.
"Sebagai jemaat yang berada di kabupaten Bursel saya berharap, supaya seluruh jemaat di sini dapat membangun mental spiritual umat. Semoga Tuhan sumber kehidupan senantiasa memberikan bimbingan, perlindungan dan berkatnya atas segenap upaya yang kita lakukan bagi negeri Fuka Bipolo tercinta," tandasnya.
Acara selanjutnya dilakukan penandatangan sera terima sekaligus penyerahan kunci gedung Pastori I dari Ketua panitia pembangunan ke ketua Klasis Bursel, Pdt Seles Hukunala dan dilanjutkan ke ketua Majelis Jemaat GPM Labuang Pdt. Herna R Lessil.Kemudian, Ketua Klasis Bursel, Pdt Seles Hukunala, Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Abdulgani Loilatu, Ketua Majelis Jemaat GPM Labuang bersama Ketua Panitia Pembangunan melakukan peninjauan dalam gedung Pastori I dan gedung kreativitas anak SMTPI Jemaat GPM Labuang.
Acara di akhiri dengan makan bersama seluruh jemaat GPM Labuang. (Sumber: Orasirakyat.com)




























